3 Rabiul Awwal 1444 H | Kamis, 29 September 2022
Cerita Ibu Anak Penyandang Autis tentang Penolakan Keluarga Besar dan Lingkungan
kolom | Sabtu, 2 Juli 2022
Editor : Betty Ismail | Reporter : Astrid Lilisari

Sekar dan anaknya usai mengikuti terapi anak berkebutuhan khusus, Sabtu (2/7/2022).

Pekanbaru, iniriau.com-Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya lahir sehat dan normal secara fisik serta mental. Namun apa dikata ketika takdir berkata lain, anak yang dititipkan ternyata punya "keistimewaan"  yang berbeda dari anak lainnya.

Memiliki anak "spesial", inilah yang dihadapi seorang Ibu bernama Sekar. Awalnya Sekar tidak begitu memperhatikan anaknya berbeda dari anak-anak seusianya. Ia baru menyadari jika putra sulungnya, Hisyam "berbeda", saat berusia dua tahun.

"Sejak umur dua tahun baru tau Hisyam ada yang beda dalam dirinya. Ketika saya panggil, dia nggak memalingkan wajah ke saya. Di usia satu tahun tidak ada kata yang keluar darinya. Ia juga pendiam dan penyendiri. Awalnya sedih namun saya berusaha menolong anak saya," ungkap Ibu dua anak ini.

Seperti orang tua umumnya yang syok saat mengetahui hasil diagnosa anak, Sekar sempat kaget ketika Hisyam, anak sulungnya didiagnosa mengalami autis. Ia kemudian memperkuat dirinya dengan mencari berbagai pertolongan untuk Hisyam. Yakni mendatangi tenaga profesional yang menangani kasus autisme.

"Saya mencari bantuan kemana-mana, ya ke dokter dan tempat-tempat terapi yang menangani anak penyandang autis, bahkan sampai ke Jakarta. Kalau di klinik terapi Anak Mandiri mulai ikut terapi sejak Desember lalu," lanjut perempuan berkerudung ini saat ditemui menjemput anak nya selesai terapi, Sabtu (2/7).

Menerima suatu perbedaan dalam diri anaknya dubanding anak normal, bukanlah hal mudah. Itu juga dirasakan Sekar ketika ditanya bagaimana dirinya dan suami, serta keluarga besar dan lingkungan menerima keberadaan anak "spesialnya" tersebut. Sekar sempat sedih dan menangis,  saat ada penolakan dari keluarga besar dan lingkungan terhadap kondisi Hasyim.

"Di awal-awal saat tau kondisi Hasyim, hati kecil saya juga menolak. Saya dan suami diam-diam sempat menyesali keadaan Hasyim. Namun seiring berjalan waktu, suami dan saya menyadari ini adalah kehendak Allah SWT. Perlahan, kamipun bisa menerima kondisi Hasyim. Hanya saja,  sampai saat ini keluarga besar dan lingkungan masih sulit menerima anak surga saya," jelas Sekar, di suatu siang yang terik.

Tapi penolakan-penolakan itu justru memberi kekuatan bagi Sekar dan suami untuk terus mengobati dan melindungi Hasyim. Ia menyadari, tak ada seorang ibu pun yang mau anaknya autis, tapi tidak akan pernah ada penolakan dari seorang ibu, bagaimanapun kondisi anaknya.

Sementara itu, Fanshur Dhigfain yang juga salah seorang terapis  mengatakan sudah biasa melihat penolakan terhadap orang tua di awal diagnosa anak berkebutuhan khusus.

"Penolakan terhadap anak berkebutuhan khusus ini mulai dari orang tua anak, keluarga besar, serta lingkungan tempat tinggalnya.

"Penolakan orang tua  terhadap anak langsung terlihat di awal diagnosa. Mereka ada yang langsung pergi dan menghilangak. Namun akan kembali lagi karena menyadari anak mereka butuh pertolongan," jelas Fanshur di klinik yang berlokasi di Jl. Kutilang Sukajadi, Pekanbaru.

Anak berkebutuhan khusus sama seperti anak-anak lainnya, mereka juga mempunyai hak yang sama dengan segala keterbatasan yang ada.*


    Nasional   Otomotif   Life Style
  Bisnis   Advertorial   Ruang Kosong
  Daerah   Galeri   Pariwisata
  Internasional   Sport   Hiburan
  Hukum   Pendidikan   Griya Interior
  Politik   Budaya   Kisah Inspiratif
    Kota Pekanbaru   Kabupaten Kampar   Kabupaten Rokan Hulu
  Kabupaten Indragiri Hulu   Kabupaten Kuantan Singingi   Kabupaten Rokan Hilir
  Kabupaten Indragiri Hilir   Kabupaten Meranti   Kabupaten Bengkalis
  Kota Dumai   Kabupaten Siak   Kabupaten Pelalawan
      Pemkab Bengkalis   DPRD Kabupaten Bengkalis