iniriau.com, ROHIL — Festival Bakar Tongkang 2026 kembali digelar di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Rabu (1/7/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu momentum penting dalam memperkuat pelestarian budaya sekaligus mendorong perkembangan pariwisata di Provinsi Riau.
Tradisi Bakar Tongkang yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Bagansiapiapi tidak hanya memiliki nilai budaya dan sejarah, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan masyarakat dari berbagai daerah. Keberadaan festival ini sekaligus menunjukkan bahwa kekayaan tradisi lokal dapat dikembangkan menjadi potensi ekonomi bagi masyarakat.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Riau, Ali Rahmad Harahap, turut menghadiri Festival Bakar Tongkang 2026 sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya yang telah menjadi salah satu ikon Kabupaten Rokan Hilir dan Provinsi Riau.
“Keberlangsungan tradisi budaya seperti Bakar Tongkang perlu terus mendapat perhatian dari berbagai pihak. Pelestarian budaya dinilai bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat serta dukungan berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya.
Menurutnya, Festival Bakar Tongkang memiliki nilai lebih karena pelaksanaannya tidak hanya menghadirkan kegiatan budaya, tetapi juga menciptakan pergerakan ekonomi di tengah masyarakat. Ramainya kunjungan selama festival memberikan peluang bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan aktivitas perdagangan.
Sejumlah sektor turut merasakan dampak dari pelaksanaan festival, mulai dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), kuliner, perhotelan, transportasi hingga perdagangan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan berbasis budaya dapat memberikan efek berantai terhadap perekonomian daerah.
Pelaku UMKM dan pedagang lokal juga mendapatkan ruang untuk menawarkan berbagai produk kepada pengunjung. Begitu pula dengan sektor jasa yang ikut bergerak seiring meningkatnya aktivitas masyarakat selama rangkaian festival berlangsung.
DPRD Provinsi Riau berharap potensi tersebut dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan. Festival Bakar Tongkang tidak hanya dipandang sebagai kegiatan tahunan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan pariwisata berbasis budaya di Riau.
Penguatan promosi, pelestarian tradisi serta dukungan terhadap pelaku ekonomi lokal dinilai menjadi bagian penting agar keberadaan festival memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya juga diharapkan terus diperkuat. Dengan kolaborasi tersebut, tradisi Bakar Tongkang dapat tetap terjaga sebagai identitas budaya sekaligus dikembangkan sebagai potensi wisata dan ekonomi daerah.
Festival Bakar Tongkang 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi ruang bertemunya tradisi, pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat. Keberlanjutan kegiatan tersebut diharapkan mampu menjaga warisan budaya Bagansiapiapi sekaligus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Riau.**(ADV)