iniriau.com, Pekanbaru - Meskipun saat ini sudah jarang terjadi konflik antar etnis di Riau, kerukunan umat beragama dan etnis tersebut perlu dijaga. Hal ini disampaikan Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Riau, Selasa (7/7) di Pekanbaru, saat bersilaturahmi dengan sejumlah pengurus FKUB di daerah.
"Riau itu kan etnis masyarakatnya banyak, ada etnis Minang yang paling mendominasi, lalu Melayu, Batak, Cina, belum lagi para pendatang imigran dari Asia Selatan yang negaranya berkonflik perang. Otomatis, masyarakat tadi juga bawa kepercayaan dan budaya mereka selama ini," kata. Wakil Ketua FKUB Riau Frans P.F. Sirait.
Menurutnya, keberagaman suku, bahasa, dan agama tadi jangan menjadi penghalang terciptanya kedamaian, ketertiban, dan kenyamanan di masyarakat dalam kesehariannya.
"Makanya kita selalu silaturahmi dengan pengurus di 12 pengurus FKUB di kabupaten kota. Apalagi daerah yang kepulauan, yang menjadi gerbang masuknya orang-orang luar tadi. Sebut saja Dumai dan Kepulauan Meranti, khan kebanyakan pendatang itu dari sana masuknya" lanjut Wakil Ketua FKUB Riau tersebut.
Dengan semangat kerukunan umat beragama itu, FKUB Riau berharap bisa membantu pemerintah daerah menjembatani permasalahan etnis, agama dan budaya di Buni Lancang Kuning.
Kegiatan silaturahmi ini dihadiri oleh Wakil Ketua FKUB Riau Frans P.F. Sirait, S.Si dan sejumlah pengurus FKUB daerah seperti Ketua Kepulauan Meranti H Mustafa dan disertai penyerahan buku Moderasi Beragama karya FKUB Provinsi Riau.
"Kerukunan antar etnis dan beragama ini adalah tugas dan tanggungjawab kita semua, mari sama-sama kita jaga, jangan sampai ada konflik etnis yang akhirnya memecah belah persatuan," ujar Frans mengakhiri penjelasannya.**