iniriau.com, BANDUNG – Daewoong Pharmaceutical Indonesia resmi memperkenalkan Enavogliflozin, obat antidiabetes golongan Sodium-Glucose Cotransporter-2 (SGLT-2) inhibitor, sebagai pilihan terapi baru bagi penyandang diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Kehadiran obat ini diharapkan dapat memperluas alternatif pengobatan di tengah terus meningkatnya jumlah penderita diabetes di Tanah Air.
Peluncuran dilakukan dalam rangkaian Forum Endokrinologi Nasional ke-14 dan Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PIT PERKENI) 2026 yang berlangsung di Bandung. Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 500 dokter spesialis endokrinologi, penyakit dalam, serta tenaga kesehatan dari berbagai daerah.
Selain memperkenalkan produk, Daewoong juga menggelar simposium ilmiah yang membahas hasil penelitian mengenai penggunaan Enavogliflozin pada pasien diabetes tipe 2 di kawasan Asia. Dalam forum itu dipaparkan bahwa terapi tersebut tidak hanya membantu mengontrol kadar gula darah, tetapi juga memberikan manfaat terhadap pengelolaan berat badan dan sejumlah indikator metabolik.
Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2024, Indonesia saat ini memiliki sekitar 20,4 juta penyandang diabetes dewasa atau menjadi negara dengan jumlah penderita terbesar kelima di dunia. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 28,6 juta orang pada 2050, sementara sekitar 15 juta kasus lainnya diperkirakan belum terdiagnosis.
Ketua Umum PERKENI, Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, mengatakan kehadiran Enavogliflozin menjadi tambahan penting dalam pilihan terapi diabetes di Indonesia.
"Indonesia menghadapi beban diabetes yang terus meningkat. Kehadiran terapi baru ini diharapkan dapat membantu dokter memberikan penanganan yang lebih optimal sesuai kondisi masing-masing pasien," ujarnya.
Dalam sesi ilmiah, Prof. Yong-ho Lee dari Division of Endocrinology and Metabolism, Yonsei University Severance Hospital, Korea Selatan, menjelaskan bahwa Enavogliflozin telah didukung hasil uji klinis pada pasien diabetes tipe 2 di Asia.
Menurutnya, karakteristik pasien Asia yang kerap mengalami resistensi insulin dan obesitas abdominal meski memiliki indeks massa tubuh relatif rendah menjadi pertimbangan penting dalam menentukan terapi.
"Pemilihan obat tidak hanya berorientasi pada penurunan kadar glukosa darah, tetapi juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap berat badan dan parameter metabolik lainnya," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Korean Diabetes Association (KDA) dan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat kolaborasi di bidang penelitian dan pendidikan medis terkait diabetes.
Ketua Korean Diabetes Association, Prof. Sung-rae Kim, menyebut kerja sama tersebut diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas penanganan diabetes melalui riset bersama serta pertukaran ilmu pengetahuan antarnegara.
Sementara itu, CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, menegaskan perusahaan akan terus mendukung pengembangan layanan kesehatan di Indonesia melalui inovasi terapi dan kolaborasi dengan kalangan medis.
"Kami berharap Enavogliflozin dapat menjadi salah satu pilihan terapi yang bermanfaat bagi pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Ke depan, kami juga akan terus memperkuat kerja sama dengan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kualitas tata laksana diabetes," tuturnya.**
Zulifni