iniriau.com, PEKANBARU – Inspektorat Provinsi Riau meminta 31 SMA Negeri yang terbukti melakukan mark-up harga seragam sekolah segera menindaklanjuti pengembalian dana kepada orang tua siswa.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Inspektorat Riau, Jondra Jayaputra Manurung, mengatakan hingga kini pihaknya masih menunggu laporan penyetoran dana kelebihan bayar dari sekolah bersama komite sekolah.
“Pengembalian dana masih kami tunggu. Sampai saat ini belum ada laporan penyetoran dari sekolah maupun komite kepada Inspektorat,” kata Jondra, Senin (1/6/2026).
Berdasarkan hasil audit terhadap 56 SMA Negeri di Riau, ditemukan total kelebihan pembayaran seragam mencapai Rp566.265.000. Dana tersebut wajib dikembalikan kepada wali murid.
Adapun sekolah di Kota Pekanbaru yang tercatat dalam temuan audit yakni SMAN 1 Pekanbaru, SMAN 2 Pekanbaru, SMAN 3 Pekanbaru, SMAN 4 Pekanbaru, SMAN 5 Pekanbaru, SMAN 8 Pekanbaru, SMAN 9 Pekanbaru, SMAN 10 Pekanbaru, SMAN 11 Pekanbaru, SMAN 12 Pekanbaru, SMAN 14 Pekanbaru, SMAN 16 Pekanbaru, SMAN 17 Pekanbaru, SMAN 18 Pekanbaru dan SMAN 19 Pekanbaru.
Sementara di Kabupaten Siak, sekolah yang diminta mengembalikan dana yakni SMAN 1 Kandis, SMAN 3 Siak, SMAN 1 Siak, SMAN 1 Bungaraya, SMAN 2 Bungaraya, SMAN 2 Kerinci Kanan, SMAN 2 Mempura, SMAN 2 Sungai Apit, SMAN 1 Minas, SMAN 2 Minas, SMAN 3 Minas, SMAN 1 Koto Gasib, SMAN 3 Tualang, SMAN 4 Tualang dan SMAN 5 Tualang.
Sedangkan di Kota Dumai, sekolah yang masuk dalam temuan audit yakni SMAN 1 Dumai.
Jondra menegaskan praktik pengadaan seragam yang dijadikan bisnis di lingkungan sekolah bertentangan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2022 tentang Pakaian Seragam Peserta Didik.
“Sekolah tidak boleh mengambil keuntungan dari pengadaan seragam. Aturan sudah jelas mengatur hal tersebut,” tegasnya.
Ia berharap seluruh sekolah segera menyelesaikan pengembalian dana agar persoalan tersebut tidak berlarut dan merugikan masyarakat, khususnya orang tua siswa.**