iniriau.com, JAKARTA - Kasus anak SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dunia akibat gantung diri, kembali menyoroti kompleksitas persoalan bunuh diri pada anak. Peristiwa yang ramai diperbincangkan di media sosial itu diduga dipicu kekecewaan sederhana. Dimana korban inisial YBS (10) sebelum meninggal Kamis (29/1/2026) meminta buku tulis dan pensil pada orangtuanya. Tapi orangtuanya tidak mampu memenuhi.
Para ahli menegaskan penyebabnya tidak pernah tunggal.
Dokter spesialis kedokteran jiwa, Lahargo Kembaren, menyatakan tekanan ekonomi keluarga kerap memberi dampak sistemik pada kesehatan mental anak.
“Masalah ekonomi berpengaruh secara tidak langsung namun mendalam. Anak bisa menyerap stres orang tua, merasa menjadi beban, hingga memikul rasa bersalah yang tidak sesuai usianya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (4/2/2026).
Menurut Lahargo, kasus bunuh diri anak bukan semata kegagalan individu atau keluarga, melainkan juga cerminan persoalan struktural. Minimnya akses layanan kesehatan jiwa anak, rendahnya literasi kesehatan mental, serta lemahnya sistem deteksi dini di sekolah dan komunitas turut berperan.
Ia menjelaskan, faktor risiko bunuh diri pada anak usia sekolah dasar meliputi depresi dan kecemasan berat, konflik keluarga dan tekanan ekonomi kronis. Hingga perundungan serta isolasi sosial.
Anak usia 9–10 tahun memang mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, namun belum matang secara emosional untuk menimbang konsekuensi jangka panjang.
“Anak tidak sedang ingin mati. Mereka tidak tahu bagaimana cara hidup dengan beban yang terlalu berat,” tegasnya.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan tren peningkatan percobaan bunuh diri pada anak dan remaja dalam beberapa tahun terakhir. WHO juga menekankan, sebagian besar kasus didahului tanda peringatan seperti perubahan perilaku, menarik diri, ucapan bernada putus asa, gangguan tidur, dan penurunan minat beraktivitas.
Untuk mencegah kejadian serupa, Lahargo menekankan pentingnya upaya berlapis. Di keluarga, orang tua perlu membangun komunikasi emosional dan berani mencari bantuan.
Di sekolah, guru harus dibekali kemampuan mengenali distres psikologis dan sistem konseling yang aktif. Sementara di tingkat masyarakat dan negara, perluasan layanan kesehatan jiwa anak dan kebijakan yang sensitif terhadap tekanan ekonomi menjadi kunci.
“Bunuh diri pada anak hampir selalu lahir dari akumulasi. Anak yang didengar tidak perlu berteriak lewat kematian,” pungkasnya.**