Oleh Robi Junipa Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Riau
Latar Belakang
Di ruang rapat industri hulu migas, masa depan sering diringkas menjadi lima indikator utama: Reserve Replacement Ratio (RRR), Ultimate Recovery Factor (URF), Estimated Ultimate Recovery (EUR), Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). Angka-angka ini tampak objektif dan teknokratis, namun sesungguhnya merupakan bahasa rasionalitas manusia—bahasa yang perlahan membentuk cara kita menilai waktu, cadangan, dan keberhasilan.
Namun bagi praktisi lapangan, angka-angka itu bukan sekadar metrik. Ia menjelma menjadi keputusan sehari-hari tentang apakah heater direhabilitasi atau dipaksa hidup, apakah flowline diinsulasi atau dibiarkan membeku tiap subuh, apakah chemical injection diturunkan demi menekan OPEX atau dipertahankan untuk mencegah scale dan emulsion, oh saya tahu bahasa dan parameter ini terlalu teknis untuk dimengerti oleh sebagian orang, tapi saya coba dengan gaya bahasa simile dengan harapan akan berujung kepada sebuah kebijakan penuh perhitungan yang tidak boleh menjadi sebuah penyesalan.
Dalam pengelolaan sumur tua, efisiensi teknis (URF) dan efisiensi ekonomi (IRR) sering kali berjalan ke arah yang berlawanan, Bayangkan URF adalah sistem pembuluh darah yang menghubungkan sumur ke fasilitas produksi. Di sumur tua, "pembuluh darah" ini sudah menyempit oleh kolesterol kerak/scale dan dinding pembuluh sudah menipis karena usia tua/korosi, tapi untuk menjaga detak jantung (lifting) tetap ada, maka harus dilakukan tindakan "operasi bypass" yang biayanya sangat mahal. semakin besar biaya yang dikeluarkan untuk memperbarui URF (CAPEX naik), semakin berat beban yang harus ditanggung oleh IRR. Dan terkadang ironinya, sisa cadangan minyak yang ada tidak lagi mampu memikul biaya yang dikeluarkan, dititik inilah teori Nash menjelma menjadi realitas operasi dan pemeliharaan.
Tinjauan Teoritis Nash Equilibrium
Pada 1950, seorang mahasiswa doktoral Princeton bernama John F. Nash Jr.—peraih Hadiah Nobel Ekonomi 1994— menulis disertasi berjudul Non-Cooperative Games. Dengan bahasa matematika yang sunyi, ia membuktikan satu hukum sederhana: bila setiap pelaku hanya mengejar kepentingannya sendiri dan tidak bisa bekerja sama, maka sistem akan selalu berhenti di satu titik “seimbang” di mana tak seorang pun ingin mengubah keputusan—meskipun keadaan itu buruk bagi semua. Titik ini kini dikenal sebagai Nash Equilibrium.
Dalam bahasa operasi, Nash Equilibrium hadir sebagai pola yang berulang: drawdown ESP dinaikkan demi target lifting, pigging frequency dikurangi karena biaya, corrosion monitoring diperlambat karena dianggap tidak produktif. Semua langkah itu benar menurut KPI masing-masing, namun secara kolektif menciptakan maintenance debt yang kelak meledak menjadi unplanned shutdown.
Nash tidak pernah menulis tentang RRR atau IRR. Namun setiap kali seorang manajer lapangan memilih proyek dengan IRR tertinggi tahun ini, sembari menunda injeksi yang menjaga URF dua dekade ke depan, ia sesungguhnya sedang berjalan di jalur yang digambarkan Nash tujuh puluh tahun lalu: jalur keseimbangan egois yang stabil, namun perlahan menggerus masa depan.
URF dan EUR sebagai pengingat nilai akhir Reservoir
RRR mendorong kita mengganti cadangan yang hilang. URF dan EUR mengingatkan kita pada nilai akhir sebuah reservoir. Namun NPV dan IRR—dua metrik yang hampir selalu memenangkan forum pengambilan keputusan—memberi imbalan pada kecepatan, bukan kesabaran; pada akselerasi, bukan keberlanjutan. Di sinilah filosofi Nash terasa getir: rasionalitas individu tidak pernah menjamin kebijaksanaan kolektif.
Setiap fungsi memiliki orientasi hasilnya sendiri. Subsurface mengejar peningkatan URF, operasi menuntut stabilitas produksi, keuangan menargetkan NPV jangka pendek, sementara manajemen puncak menatap RRR di laporan tahunan. Tidak ada yang keliru. Semua rasional. Namun seperti yang ditunjukkan Nash, sistem seperti ini akan terkunci di satu titik yang tidak ingin ditinggalkan siapa pun—meskipun semua sadar bahwa titik itu bukan yang terbaik bagi masa depan.
Lapangan tidak runtuh karena kesalahan teknis semata, melainkan karena konflik horizon waktu. RRR dapat terlihat sehat ketika EUR diam-diam tergerus. NPV melonjak ketika pressure maintenance tertunda. IRR memikat, sementara reservoir kehilangan masa depannya. Di ruang kontrol, konflik itu tampak banal: alarm heater trip, MTBF pompa yang makin pendek, dan water handling system yang kelebihan beban.
Di luar ruang rapat, terdapat arena lain yang jarang masuk ke dalam spreadsheet: arena kebijakan dan legitimasi politik. Di sana, reservoir bukan lagi sekadar aset, melainkan simbol keberhasilan negara. Target lifting berubah menjadi pidato, sumur baru menjadi spanduk. Ketika target menjadi narasi politik, disiplin operasi sering menjadi korban. Sumur dipaksa on-stream walau flow assurance window telah dilanggar, dumpflood dan waterflood dijalankan tanpa kesiapan surface facility, dan heater management berubah dari instrumen keselamatan menjadi sekadar alat mengejar grafik produksi.
Penutup
Setiap lapangan tua menyimpan arsip sunyi: heater yang tak pernah direhabilitasi, pipeline yang korosinya telah diprediksi namun diabaikan, ESP yang dipaksa bekerja di luar design envelope. Semua bukan hasil ketidaktahuan, melainkan produk rasionalitas yang terfragmentasi—sebuah Nash Equilibrium dalam bentuk operasi dan pemeliharaan.
John Nash tidak menawarkan moralitas. Ia menawarkan kejujuran matematis: bahwa dunia yang dikelola oleh aktor-aktor rasional tanpa koordinasi akan selalu berhenti pada satu titik stabil— entah itu kemakmuran, atau kehancuran.
Karena itu, kepemimpinan di sektor migas bukan tentang memilih antara URF atau IRR, melainkan tentang merancang struktur kebijakan dan insentif sehingga menjaga reservoir, heater, pipeline, dan pompa menjadi keputusan yang rasional secara ekonomi—bukan sekadar tindakan idealis yang merugikan diri sendiri.
Pada akhirnya, yang lebih cepat menipis daripada cadangan geologi bukanlah minyak, melainkan kesanggupan kita untuk menyatukan kebenaran-kebenaran kecil menjadi satu kebenaran besar tentang masa depan energi bangsa.
Karena yang menua bukan hanya sumur, tetapi juga cara kita mengambil keputusan. Dan seperti reservoir yang kehabisan tekanan, organisasi yang kehabisan kebijaksanaan akan tetap berproduksi—sampai suatu hari ia benar-benar berhenti.
Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami.
***