Strategi Agresif PHR Tahan Laju Penurunan Produksi Blok Rokan

Strategi Agresif PHR Tahan Laju Penurunan Produksi Blok Rokan
Pengeboran di salah satu ladang minyak PHR (foto:Humas PHR)

iniriau.com, PEKANBARU – Tantangan penurunan produksi alamiah atau natural decline menjadi keniscayaan bagi wilayah kerja migas yang telah berusia tua. Hal ini juga dihadapi oleh Blok Rokan, salah satu ladang minyak terbesar di Indonesia yang telah beroperasi lebih dari tujuh dekade.
Meski demikian, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus melakukan berbagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas produksi. Upaya tersebut dilakukan melalui pengeboran masif, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.

General Manager Zona Rokan, Andre Wijanarko, menjelaskan bahwa tanpa intervensi aktif, produksi minyak di lapangan tua seperti Rokan dapat mengalami penurunan signifikan setiap tahun.
“Laju penurunan alamiah di lapangan mature bisa mencapai dua digit. Tanpa pengeboran agresif, produksi akan turun drastis. Karena itu, kami terus melakukan pengeboran ratusan sumur baru setiap tahun untuk menjaga level produksi,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini produksi Blok Rokan masih mampu dipertahankan di kisaran 150.000 hingga 160.000 barel minyak per hari (BOPD). Angka tersebut dicapai melalui strategi pengeboran yang konsisten dan terukur.

Andre menambahkan, program pengeboran sebanyak 400 hingga 500 sumur per tahun menjadi langkah penting untuk mengompensasi penurunan produksi yang terus terjadi secara alami.

Dalam pelaksanaannya, PHR juga terus berkoordinasi dengan SKK Migas guna memastikan seluruh kegiatan operasional berjalan sesuai rencana dan memenuhi standar keselamatan.

“Setiap barel yang berhasil dipertahankan merupakan kontribusi nyata bagi ketahanan energi nasional. Apalagi dengan skema gross split, kami harus mengelola seluruh risiko secara mandiri, sehingga efisiensi dan inovasi menjadi kunci,” jelasnya.

Selain fokus pada produksi, PHR juga mendorong keterlibatan pelaku usaha lokal di Riau dalam rantai operasional. Hal ini dilakukan seiring dengan peningkatan aktivitas pengeboran dan revitalisasi fasilitas produksi. Andre menegaskan, di tengah tingginya intensitas operasi, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama perusahaan.

“Operasi yang masif harus diimbangi dengan standar keselamatan yang ketat. Tidak ada kompromi dalam hal ini,” tegasnya.

Sebagai informasi, Blok Rokan merupakan salah satu tulang punggung produksi minyak nasional dengan kontribusi signifikan terhadap total lifting Indonesia. PHR sendiri mendapat mandat untuk mengelola wilayah kerja ini sejak Agustus 2021 dan akan beroperasi hingga 2041.**

#Bisnis

Index

Berita Lainnya

Index