Gunakan Teknologi XR, “Pelangi di Mars” Jadi Terobosan Baru Film Indonesia

Gunakan Teknologi XR, “Pelangi di Mars” Jadi Terobosan Baru Film Indonesia
Meet & Greet pemain film Pelangi di Mars, Senin (23/3) di Mall SKA Pekanbaru. Foto - Astrid

iniriau.com, Pekanbaru - Pelangi di Mars sebuah film ilmiah karya sutradara Upie Guava yang tayang di seluruh bioskop Cinema 21 Indonesia, pada 18 Maret 2026, merupakan film inspiratif bagi generasi muda Indonesia. Film ini juga tidak lupa menyentuh budaya Indonesia melalui robot Batik yang menemani petualangan Pelangi di planet Mars

Film ini bermula ketika Bumi di tahun 2100 mengalami krisis air bersih. Manusia memutuskan untuk pindah ke planet Mars. Pada masa koloni menetap di Mars, seorang bayi perempuan lahir di planet merah tersebut, bernama Pelangi.

Ketika koloni manusia memutuskan untuk kembali ke Bumi, Pelangi tertinggal oleh rombongan. Ia bersama robot kepercayaannya, Batik, berpetualang di planet Mars tersebut mencari batu zeolit omega yang berfungsi untuk memurnikan air di Bumi.

Dalam perjalanannya, selain di temani Batik, Pelangi bertemu dengan sejumlah robot yang sudah lama ditinggalkan koloni manusia Mereka berkelana mencari keberadaan batu zeolit omega dan melawan pasukan Nerotex.

Sepintas filim "Pelangi di Mars", mirip dengan film "Wall-E" keluaran rumah produksi Pixar Amerika Serikat di tahun 2008.

Namun, film ini menjadi film fiksi ilmiah Indonesia pertama dengan menggunakan teknologi Extended Reality (XR) dan metode produksi hybrid yang menggabungkan pengambilan gambar nyata dengan lingkungan virtual tiga dimensi.

"Kita tahu kalau film seperti ini membutuhkan teknologi digital maju. Inspirasi awal kita itu dari film "Star Wars". Itu masih baru, dan kita belajar dari YouTube," kata Sutradara film "Pelangi di Mars" Upie Guava, Senin (23/3) saat menghadiri peluncuran film tersebut di Cinema 21, Mall SKA Pekanbaru.

Upie menuturkan tantangan yang dihadapi saat membuat film fiksi ilmiah tersebut. Produksinya banyak melibatkan generasi muda pecinta teknologi digital.

"Waktu itu khan lagi zaman COVID-19, khan. Nah, daripada kita nganggur maka kita belajar pembuatan film dengan teknologi XR ini. Kita libatkan generasi muda yang memang hobi dengan teknologi digital. Memang memakan waktu lama, namun seperti yang kita lihat hari ini, jadilah film "Pelangi di Mars" ini," kata Upie lebih lanjut.

Ia berharap dari film ini, generasi muda Indonesia berani bermimpi untuk bercita-cita lebih tinggi.

"Pesan saya ke generasi muda Indonesia, khususnya di Pekanbaru agar berani bercita-cita lebih tinggi. Di masa depan, Indonesia akan memiliki astronot dan pesawat luar angkasa yang canggih dan teknologi maju," tutupnya mengakhiri jumpa pers singkat bersama media di Pekanbaru.**

#Pekanbaru

Index

Berita Lainnya

Index