“Republik Fufufafa” Ketika Musik Jadi Cermin Negeri

“Republik Fufufafa”  Ketika Musik Jadi Cermin Negeri

Oleh Zulkarnain Kadir Pengamat Hukum dan Pemerhati Birokrasi

SLANK kembali melakukan apa yang sejak lama mereka kuasai: menjadikan musik sebagai cermin. Lewat lagu “Republik Fufufafa”, Slank tidak sedang berteriak lantang, tapi menertawakan dengan getir. Dan justru di situlah kritiknya terasa lebih tajam.

“Fufufafa” bukan sekadar bunyi. Ia simbol. Simbol negeri yang bising oleh slogan, ramai oleh pidato, penuh jargon perubahan, tapi sering kehilangan arah. Semua terdengar, tapi tak semua bermakna. Negeri ini seolah berjalan di tengah keramaian suara, namun miskin kejelasan dan kejujuran.

Dalam lagu ini, republik digambarkan bukan sebagai rumah bersama, melainkan panggung.  Elit sibuk bermain peran, rakyat lebih sering menjadi penonton. Demokrasi berjalan prosedural, tetapi substansi keadilan terasa menjauh.

Hak bicara ada, namun didengar atau tidak, itu soal lain. Slank tidak menyebut nama, tidak menunjuk wajah. Tapi justru karena itu, sindirannya terasa universal. Siapa pun bisa bercermin, siapa pun bisa tersinggung tergantung posisi masing-masing. Inilah kekuatan kritik kultural: tidak menggurui, tapi mengusik kesadaran.

“Republik Fufufafa” juga mengingatkan bahwa kritik hari ini tak selalu datang dari ruang akademik atau mimbar politik. Musik, dengan lirik sederhana dan nada yang mudah diingat, bisa lebih jujur menangkap kegelisahan publik. Lagu ini adalah suara mereka yang lelah dengan janji, muak dengan drama, dan rindu pada kepemimpinan yang benar dan adil.

Pada akhirnya, lagu ini bukan ajakan untuk sinis, melainkan peringatan. Bahwa jika republik terus dibiarkan menjadi “fufufafa” ramai tanpa arah maka kepercayaan publik akan terus terkikis. 

Dan mungkin, yang paling menyakitkan dari lagu ini adalah kenyataan bahwa banyak pendengar tidak merasa sedang mendengar fiksi. Mereka merasa sedang mendengar berita yang dinyanyikan.**

#Pemerintahan

Index

Berita Lainnya

Index