Tinjauan Psikologis Sumpah Palsu Para Koruptor

Tinjauan Psikologis Sumpah Palsu Para Koruptor
Ilustrasi web istock

Oleh : Denni hidayat
(Warga Riau bermastautin di Jakarta)

Latar Belakang : Fenomena Sumpah Palsu para Koruptor

SECARA teori psikologis, tindakan bersumpah demi menutupi kesalahan adalah mekanisme pertahanan diri yang kompleks. Fenomena ini sering kali melibatkan konflik antara citra diri ideal dengan realitas perilaku yang buruk, di Indonesia sumpah atas nama Tuhan sering kali menjadi senjata retorika yang digunakan oleh para terdakwa korupsi untuk meyakinkan publik dan hakim di tengah minimnya bukti pembelaan. Dalam psikologi hukum, ini disebut sebagai "Moral Bolstering" (penguatan moral).

Sudah banyak contoh kasus koruptor di Indonesia yang bersumpah membela diri dengan membawa nama Tuhan dan keluarga, sebut saja Gayus tambunan, Akil mochtar, Setya novanto, Anas Urbaningrum dan lain sebagainya namun akhirnya terbukti bersalah secara hukum, dan hal ini memiliki dampak sosiologis dan psikologis yang mendalam bagi masyarakat terhadap kesakralan dari makna sumpah itu sendiri.

Sumpah yang seharusnya dianggap sebagai ikatan spiritual yang suci antara manusia dengan  Tuhannya, kini sering dipandang sekadar "pembelaan diri" atau "akting politik". Masyarakat mulai merasa bahwa sumpah tidak lagi memiliki kekuatan magis atau moral untuk mencegah seseorang untuk berbohong, sumpah tidak lagi ditakuti, dan kesucian simbol-simbol agama dengan sebutan 
atas nama Tuhan menjadi menurun nilainya, walaupun menurut Paul Ekman terkadang orang jujur 
pun bersumpah karena mereka sangat takut tidak dipercayai.

Motivasi Psikologis di Balik Sumpah Palsu

Ada beberapa alasan mengapa seseorang merasa perlu menggunakan "sumpah" saat berbohong, secara naluriah manusia memiliki kebutuhan untuk dipandang sebagai orang jujur. Ketika mereka melakukan kesalahan, terjadi ketidaknyamanan mental (disonansi). Bersumpah adalah upaya ekstrem untuk meyakinkan orang lain dan terkadang diri sendiri, bahwa mereka masih 
orang yang baik dan bisa dipercaya.

Selanjutnya motivasi sumpah palsu itu secara alam bawah sadar merupakan mekanisme Pertahanan sebagai benteng terakhir untuk menghentikan investigasi. Dengan membawa otoritas seperti nama Tuhan, nama orang tua, atau nyawa sekalipun, pelaku berharap lawan bicaranya merasa sungkan atau takut untuk bertanya lebih lanjut, bahkan juga berani menantang otoritas/lawan bicara yang menginvestigasi dirinya untuk saling bersumpah atas nama Tuhan. Secara umum, dalam psikologi forensik, penggunaan sumpah yang berlebihan bahkan dengan mengajak orang lain untuk saling bersumpah atas nama Tuhan sering dianggap sebagai red flag.

Orang yang berkata jujur biasanya merasa cukup dengan pernyataan fakta, sementara pembohong merasa perlu "menjual" kebenaran. Selain itu secara hukum, sumpah yang diucapkan di luar pengadilan tidak memiliki kekuatan hukum formal. Namun, di dalam persidangan, setiap saksi atau terdakwa tetap diminta untuk bersumpah berdasarkan agamanya.dan hal ini sudah lebih dari cukup untuk urusan sumpah menyumpah karena sudah ada dalam sistem peradilan itu sendiri.

Tinjauan sumpah palsu dari perspektif “Emotional Leakage”

Salah satu penelitian yang sering dirujuk dalam konteks ini adalah karya Leanne ten Brinke & Stephen Porter (2012), tentang ekspresi emosional para pembohong yang menunjukkan fenomena Incongruence" (ketidaksesuaian), yang menunjukkan kegagalan sistematis manusia dalam memalsukan emosi, seperti saat seorang koruptor mencoba meyakinkan pengadilan melalui 
tangisan atau penyesalan palsu.

Hasil utama penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang dapat mengatur kata-kata mereka dengan sangat hati-hati, tetapi otot-otot wajah manusia memiliki keterbatasan dalam menyimulasikan emosi yang benar-benar tulus secara sempurna. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai kebocoran emosional, di mana jejak emosi asli yang dirahasiakan muncul secara sekilas melalui mikro-ekspresi yang terjadi secara alami.

Dalam pengamatan terhadap ekspresi wajah, penelitian ini menyoroti bahwa pembohong sering kali gagal mengaktifkan otot wajah bagian atas secara tepat. Sebagai contoh, pada ekspresi kesedihan yang tulus, otot dahi biasanya akan berkontraksi ke arah tengah, namun pada penyesalan 
palsu, aktivitas ini cenderung absen sementara bagian mulut justru dilebih-lebihkan.

Ketidaksesuaian ini menciptakan tampilan wajah yang asimetris dan tidak selaras, di mana transisi antara satu ekspresi ke ekspresi lain terjadi secara mendadak atau justru bertahan terlalu lama agar terlihat meyakinkan, yang dalam psikologi forensik dikenal sebagai kegagalan kontrol motorik wajah involunter.

Kesimpulan

Secara verbal, penelitian Ten Brinke dan Porter mengungkapkan bahwa individu yang berbohong menggunakan jumlah kata yang lebih banyak dan struktur kalimat yang lebih rumit dibandingkan mereka yang jujur. Hal ini terjadi karena mereka sedang melakukan pengaturan kesan yang intensif, berusaha menutupi perasaan bersalah dengan retorika yang berlebihan. Mereka sering menggunakan bahasa yang bersifat ragu-ragu dan banyak jeda bicara karena otak harus bekerja dua kali lipat untuk menjaga konsistensi skenario kebohongan sekaligus mensinkronkan ekspresi wajah yang sedang dimanipulasi.

Selain itu, para peneliti lain seperti Bella DePaulo dan koleganya, serta penelitian tentang perilaku verbal oleh James W. Pennebaker, mencatat adanya perilaku kewaspadaan yang berlebihan pada pembohong, di mana mereka justru mempertahankan kontak mata yang sangat tajam dan agresif untuk memantau reaksi audiens. Sebaliknya, orang yang benar-benar menyesal sering kali 
menunjukkan perilaku menunduk secara alami karena adanya rasa malu yang nyata.

Pada akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa beban kognitif yang timbul akibat proses sinkronisasi antara akting emosional dan narasi palsu akan menciptakan celah perilaku yang dapat diidentifikasi secara empiris, hal ini membuktikan bahwa emosi manusia yang tulus tetap menjadi salah satu indikator kejujuran yang paling sulit untuk diduplikasi secara sempurna, yang menurut penulis Tuhan sebenarnya sudah hadir disana, untuk membuktikan berbohong atau tidaknya manusia.**

#Hukrim

Index

Berita Lainnya

Index