Menhut Apresiasi Penanganan Kebakaran Lahan, Hotspot Riau Terendah

Rabu, 30 September 2026 | 14:04:34 WIB
Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni saat mengunjungi Rumah Runding Restorasi di Bengkalis, Rabu (30/9/2026) - foto:Jri

iniriau.com, BENGKALIS — Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni mengapresiasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Ia menyebut jumlah hotspot dan fire spot di Riau tahun ini berada pada posisi terendah dibandingkan enam provinsi yang selama ini dikenal rawan karhutla.

Pernyataan tersebut disampaikan Raja Juli saat mengunjungi Rumah Runding Restorasi di Bengkalis, Rabu (30/9/2026). Menurutnya, kondisi ini menjadi perkembangan penting bagi Riau yang memiliki sejarah panjang dengan kebakaran hutan dan kabut asap.

"Alhamdulillah dari enam provinsi yang langganan karhutla, biasanya Riau langganan nomor satu. Kalau kita lihat sejarahnya, track record, historical record Riau ini nomor satu," kata Raja Juli.

Ia mengaku kondisi tahun ini cukup berbeda. Padahal, menurutnya, Riau tengah menghadapi periode yang disebut sebagai puncak El Nino. Namun, tingkat karhutla dan kabut asap tidak separah yang terjadi pada sejumlah periode sebelumnya.

"Bahkan tahun lalu saja rasanya lebih pekat asapnya ketimbang tahun ini, padahal ini puncak El Nino. Nah sekarang saya kira semua pakar nasional maupun internasional yang sempat berinteraksi dengan saya melihat bahwa Riau urutan hotspot dan fire spot-nya nomor terakhir," ujarnya.

Raja Juli menegaskan keberhasilan tersebut tidak bisa dikaitkan hanya dengan kinerja satu institusi atau pemerintah daerah. Penanganan karhutla, kata dia, merupakan hasil dari keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, aparat, masyarakat hingga upaya pemulihan lingkungan.

Ia juga menilai keberhasilan restorasi kawasan gambut menjadi salah satu aspek yang perlu dikaji untuk memahami menurunnya kejadian kebakaran di Riau.

Menurutnya, sejumlah kawasan yang sebelumnya berulang kali terbakar mengalami degradasi gambut. Kawasan tersebut kemudian dipulihkan melalui program restorasi yang melibatkan berbagai pihak.

"Dimana tadi disampaikan ini dulu adalah tempat kebakaran hutan berulang terjadi, terjadi degradasi gambut," katanya.

Proses pemulihan dilakukan dengan memperbaiki kondisi lahan sekaligus menanam kembali vegetasi endemik yang memiliki nilai ekologis dan berkaitan dengan kehidupan masyarakat setempat.

"Namun dengan kerja sama gotong royong, daerah yang terdegradasi ini, wilayah yang dulu menjadi tempat kebakaran hutan berulang sekarang berhasil direstorasi," jelas Raja Juli.

Selain pemulihan vegetasi, pengelolaan tata air juga menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan gambut. Di lokasi tersebut telah diterapkan kesepakatan pengelolaan tata air melalui sistem water sharing pada areal sekitar 2.400 hektare.

Raja Juli menilai kombinasi restorasi gambut, pengelolaan tata air dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kebakaran di kawasan yang sebelumnya rawan terbakar.

Ia menyebut kondisi tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut oleh para ilmuwan untuk mengetahui secara lebih komprehensif faktor yang memengaruhi penurunan hotspot dan fire spot di Riau tahun ini.**

Tags

Terkini