Oleh : Denni Hidayat
(Kolumnis Lepas)
Latar Belakang
CONFIRMATION bias merupakan salah satu bias kognitif yang paling dominan dalam memengaruhi cara manusia mencari, mengingat, menginterpretasikan, dan menggunakan informasi. Bias ini menyebabkan individu cenderung menerima informasi yang mendukung keyakinan awal dan menolak atau mengabaikan informasi yang bertentangan. Hal ini berlaku tidak hanya pada individu awam, tetapi juga pada ilmuwan, hakim, dokter, investor, akademisi, hingga pembuat kebijakan.
Teori ini pertama kali diteliti secara sistematis oleh Peter Wason melalui eksperimen Rule Discovery pada tahun 1960, penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketika seseorang memiliki dugaan awal (hipotesis) ia lebih memilih mencari bukti yang mendukung dugaan tersebut daripada berusaha membuktikan bahwa dugaan itu salah, dengan kata lain seseorang lebih cenderung mencari pembenaran daripada mencari kebenaran, tulisan ini akan membahas mekanisme psikologis confirmation bias, proses kerjanya dalam kenyataan dan cara mengatasinya dengan pendekatan teori Daniel Kahneman, namun disesuaikan dengan bahasa awam.
Confirmation bias itu sebenarnya adalah kebiasaan otak mencari pembenaran, bukan mencari kebenaran.
Bayangkan begini, misalnya anda sudah yakin bahwa seseorang itu tidak jujur, besoknya dia datang terlambat 15 menit. Otak anda langsung berkata, "Nah kan, benar dugaanku.", tapi ketika orang yang sama datang tepat waktu selama seminggu berturut-turut, otak anda menganggap itu hal biasa dan cepat melupakannya, artinya, otak tidak menilai semua fakta secara seimbang.
Atau anda seorang pemain saham, setelah harga turun sekian persen tapi meyakini harga akan naik kembali, alih-alih mencari alasan mengapa saham turun, anda justeru mencari informasi yang menganalisa tentang harga saham itu akan naik kembali, kenapa? karena informasi itu membuat anda merasa nyaman, anda lebih suka mengumpulkan bukti yang mendukung keyakinan yang sudah ada pada diri anda sendiri, atau contoh lain kalau anda sudah suka dengan seseorang, hal hal atau sifat buruknya sering diabaikan, sebaliknya, kalau anda sudah tidak suka, hal-hal baiknya pun langsung hilang sama sekali padahal orangnya sama dan yang menarik menurut Kahneman confirmation bias tidak hanya terjadi pada orang yang kurang berpendidikan, justru orang yang sangat berpendidikan dan pintar sering mengalaminya, bedanya, mereka lebih pandai membuat argumen untuk membenarkan keyakinannya, inilah mengapa seorang profesor, dokter, hakim, pengusaha, atau ilmuwan pun tetap bisa terjebak dalam confirmation bias artinya ini berlaku pada semua orang.
Mekanisme terjadinya confirmation bias
Dalam bukunya Thinking, Fast and Slow, Kahneman menjelaskan bahwa manusia memiliki dua sistem berpikir, pertama cara berpikir yang cepat, otomatis, intuitif, dan sangat hemat energi, serta sistem berpikir kedua yaitu cara berpikir yang lambat, analitis, dan membutuhkan usaha yang lebih besar.
Nah, confirmation bias umumnya muncul dari dominasi sistem berpikir pertama, ketika menerima informasi, sistem pertama segera memberikan penilaian berdasarkan pengalaman dan keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya, tapi sayangnya setelah itu, sistem kedua sering kali tidak lagi berfungsi untuk menguji apakah keputusan tersebut benar, melainkan hanya menyusun alasan-alasan yang memperkuat keputusan yang telah diambil secara intuitif tersebut, tapi memang pada dasarnya, otak tidak dirancang untuk selalu mencari kebenaran secara objektif.
Otak lebih mengutamakan efisiensi daripada akurasi. Setiap hari manusia menerima ribuan informasi dari lingkungan sekitarnya. Jika seluruh informasi tersebut harus dianalisis secara mendalam satu per satu, otak akan menghabiskan energi yang sangat besar. Oleh karena itu, otak mengembangkan mekanisme penyederhanaan atau mental shortcut yang memungkinkan seseorang mengambil keputusan dengan cepat. Mekanisme ini sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dalam situasi tertentu dapat menimbulkan kesalahan berpikir, terus darimana itu semua bermula ?
Proses confirmation bias sebenarnya dimulai jauh sebelum seseorang menerima informasi baru. Sejak kecil, setiap individu membangun berbagai keyakinan melalui pengalaman hidup, pendidikan, lingkungan keluarga, budaya, agama, media massa, hingga interaksi sosial.
Semua pengalaman tersebut membentuk suatu kerangka berpikir atau mental model yang digunakan untuk memahami dunia, namun yang paling utama adalah nilai-nilai dan kesadaran di keluargalah menjadi pembentuk keyakinan pertama manusia, mekanisme kerangka berpikir inilah yang kemudian menjadi "kacamata" ketika seseorang melihat suatu peristiwa dan ketika ada informasi baru yang datang, otak tidak langsung memprosesnya secara netral. Sebaliknya, otak terlebih dahulu membandingkan informasi tersebut dengan keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya. apabila informasi baru dianggap sejalan dengan keyakinan tersebut, otak akan dengan mudah menerimanya tanpa banyak pertanyaan.
Sebaliknya, apabila informasi itu bertentangan dengan keyakinan yang sudah ada, otak akan cenderung bersikap lebih kritis, mencari kelemahannya, mempertanyakan sumbernya, atau bahkan menolaknya. Dengan demikian, proses penyaringan informasi dengan keyakinan telah berlangsung bahkan sebelum analisis atau interpretasi yang sebenarnya dilakukan.
Proses kerja confirmation bias dalam kenyataan
Mekanisme confirmation bias tidak berhenti pada proses interpretasi. Otak juga memiliki kecenderungan untuk lebih mudah mengingat informasi yang sesuai dengan keyakinannya. Informasi yang mendukung keyakinan biasanya disimpan lebih kuat dalam ingatan, sedangkan informasi yang bertentangan lebih cepat dilupakan atau dianggap sebagai pengecualian. Inilah sebabnya mengapa seseorang sering merasa bahwa pengalaman hidupnya selalu membuktikan apa yang ia yakini, padahal kenyataannya ia hanya lebih mengingat pengalaman-pengalaman tertentu dan melupakan pengalaman lainnya.
Sebagai contoh, seorang pegawai pernah merasa dipermalukan oleh atasannya di depan rekan kerja. Peristiwa itu meninggalkan luka batin yang mendalam sehingga, itu disimpan kuat dalam ingatan. Sejak saat itu, setiap keputusan yang diambil atasannya selalu dianggap memiliki niat buruk. Ketika atasannya memberikan kritik terhadap hasil pekerjaannya, ia langsung menganggap kritik tersebut sebagai bentuk kebencian pribadi. Namun ketika atasannya memberikan pujian atau penghargaan, ia justru menafsirkannya sebagai kepura-puraan atau strategi untuk menjaga citra. Dalam kasus ini, fakta apa pun akan selalu diarahkan untuk memperkuat keyakinannya bahwa atasannya adalah orang yang buruk, Dalam dunia bisnis, confirmation bias juga sering terjadi, misalnya, seorang pengusaha pernah merasa dikhianati oleh mantan rekan bisnisnya. Setelah hubungan mereka berakhir, ia terus mengikuti perkembangan usaha mantan rekannya. Setiap kali mendengar kabar bahwa usaha tersebut mengalami masalah, ia merasa keyakinannya terbukti bahwa mantan rekannya memang tidak kompeten. Sebaliknya, ketika usaha tersebut berkembang pesat, ia mencari penjelasan lain, misalnya dengan mengatakan bahwa keberhasilan itu diperoleh melalui cara-cara yang tidak jujur. Ia tidak lagi menilai fakta secara objektif, melainkan menyesuaikan fakta dengan keyakinannya.
Berbicara confirmatioan bias juga bicara fakta yang sama dapat menghasilkan makna yang berbeda bagi setiap orang. Misalnya, hujan deras dapat dianggap sebagai berkah oleh seorang petani karena membantu tanamannya tumbuh dengan baik. Sebaliknya, seorang kontraktor yang sedang mengerjakan proyek bangunan mungkin menganggap hujan sebagai hambatan yang merugikan.
Pedagang payung melihat hujan sebagai peluang meningkatkan penjualan, sedangkan penyelenggara konser mungkin menganggapnya sebagai ancaman terhadap keberhasilan acara. Fakta yang terjadi sama, tetapi interpretasi yang muncul sangat dipengaruhi oleh pengalaman, kepentingan, dan keyakinan masing-masing individu.
Fenomena confirmation bias dalam dunia nyata ini menjadi terlihat jelas ketika seseorang berada dalam kondisi emosional. Ketika sedang marah, takut, cemas, atau sangat bersemangat dan antusias, kemampuan berpikir rasional cenderung menurun. Pada saat seperti itu, manusia lebih mengandalkan intuisi dan keyakinan yang sudah ada daripada melakukan analisis secara objektif.
Emosi membuat seseorang lebih mudah menerima informasi yang memberikan rasa aman dan lebih sulit menerima informasi yang mengancam keyakinannya, selain emosi, identitas pribadi juga memainkan peranan penting. Ketika suatu informasi berkaitan dengan agama, politik, profesi, atau kelompok sosial yang menjadi bagian dari identitas seseorang, confirmation bias cenderung menjadi lebih kuat, karena menerima informasi yang bertentangan sering kali dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri atau kelompok tempat seseorang merasa menjadi bagian.
Akibatnya, yang dipertahankan bukan lagi fakta, melainkan identitas, dan ini tentu akan menjadi berbahaya ketika Otak menjadi musuh bagi keputusan yang baik.
Cara mengatasi cofirmation bias
Cara terbaik untuk mengurangi pengaruh confirmation bias bukanlah dengan berusaha menghilangkannya, karena hal tersebut hampir mustahil dilakukan. Yang lebih realistis adalah membangun kebiasaan berpikir reflektif. Seseorang perlu membiasakan diri bertanya, "Apa bukti yang bertentangan dengan pendapat saya?", "Jika saya salah, bagaimana saya dapat mengetahuinya?", atau “Apakah saya sedang mencari fakta atau hanya mencari pembenaran?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini memaksa otak keluar dari pola berpikir otomatis dan mulai mengevaluasi keyakinannya secara lebih kritis, dan yang menarik dari pemikiran Daniel Kahneman ini adalah, bahwa ia tidak pernah mengklaim manusia dapat sepenuhnya terbebas dari confirmation bias.
Justru sebaliknya, Kahneman berulang kali menegaskan bahwa bias merupakan bagian alami dari cara kerja otak manusia. Menurutnya, bahkan setelah puluhan tahun meneliti berbagai bias kognitif, ia sendiri tetap mengalami bias dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan mengenai bias tidak secara otomatis membuat seseorang kebal terhadap bias tersebut. Yang berubah hanyalah kemampuan untuk mengenali bahwa bias telah terjadi.
Oleh karena itu, Kahneman berpendapat bahwa cara terbaik untuk mengurangi confirmation bias bukanlah dengan berusaha mengubah sifat dasar manusia, melainkan dengan memperbaiki proses pengambilan keputusan. Ia percaya bahwa manusia akan selalu memiliki keterbatasan dalam berpikir secara objektif.
Karena itu, yang perlu dibangun adalah sistem yang mampu mengurangi dampak dari keterbatasan tersebut, salah satu langkah yang disarankan Kahneman adalah tidak terlalu mengandalkan intuisi ketika menghadapi keputusan yang memiliki konsekuensi besar. Intuisi memang dapat menjadi alat yang sangat berguna, terutama pada bidang yang telah dikuasai seseorang melalui pengalaman panjang dan umpan balik yang konsisten, seperti pemain catur, dokter spesialis, atau pilot.
Namun, untuk keputusan yang kompleks seperti investasi, penyusunan kebijakan publik, perekrutan pegawai, atau strategi bisnis, intuisi sering kali menyesatkan. Dalam situasi seperti ini, keputusan harus didasarkan pada data, bukti empiris, dan analisis yang sistematis, bukan sekadar perasaan bahwa sesuatu tampak benar.
Kahneman juga menekankan pentingnya mencari informasi yang bertentangan dengan keyakinan sendiri. Menurutnya, kebanyakan orang hanya mencari bukti yang mendukung pendapatnya. Padahal, cara berpikir ilmiah justru menuntut seseorang berusaha mencari bukti yang dapat membuktikan bahwa dirinya mungkin salah. Seseorang sebaiknya tidak hanya bertanya, "Mengapa saya benar?", tetapi juga bertanya, "Apa bukti yang menunjukkan bahwa saya mungkin keliru?" Pertanyaan semacam ini melatih otak keluar dari pola berpikir otomatis dan mulai mengevaluasi keyakinannya secara lebih objektif.
Selain itu, Kahneman juga menyarankan agar keputusan penting tidak diambil secara tergesa-gesa. Confirmation bias berkembang lebih kuat ketika seseorang harus membuat keputusan dengan cepat atau berada di bawah tekanan emosi.
Oleh karena itu, memberikan jeda sebelum mengambil keputusan menjadi sangat penting. Jeda tersebut memberi kesempatan kepada Sistem berpikir kedua untuk bekerja lebih aktif sehingga seseorang dapat mempertimbangkan informasi secara lebih menyeluruh sebelum menetapkan kesimpulan.
Kahneman juga percaya bahwa kualitas keputusan akan meningkat apabila seseorang melibatkan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda. Diskusi yang hanya melibatkan orang-orang yang selalu setuju justru memperbesar confirmation bias karena semua peserta saling memperkuat keyakinan yang sama.
Sebaliknya, kehadiran orang yang bersedia mengkritik atau mempertanyakan suatu keputusan dapat membantu menemukan kelemahan yang sebelumnya tidak terlihat. Dalam banyak organisasi modern, bahkan terdapat peran khusus yang disebut devil's advocate, yaitu seseorang yang secara sengaja ditugaskan untuk mencari kelemahan dari suatu keputusan sebelum keputusan tersebut dilaksanakan.
Penutup.
Pada akhirnya, pelajaran terpenting dari pemikiran Daniel Kahneman bukanlah tentang bagaimana manusia dapat menjadi sepenuhnya objektif, melainkan bahwa manusia harus menyadari keterbatasan cara berpikirnya sendiri. Menurutnya, kualitas keputusan tidak ditentukan oleh seberapa yakin seseorang terhadap pendapatnya, tetapi oleh seberapa besar kesediaannya untuk terus menguji keyakinan tersebut terhadap bukti-bukti baru. Dengan demikian, cara paling efektif mengurangi confirmation bias bukanlah meningkatkan rasa percaya diri, melainkan membangun kerendahan hati intelektual, yaitu keberanian untuk mengakui bahwa setiap orang, termasuk dirinya sendiri, selalu memiliki ruang kemungkinan untuk keliru.**