iniriau.com, Pekanbaru - Pada persidangan lanjutan kasus dugaan Jatah Preman Tujuh Batang, Tim Advokasi Abdul Wahid menghadirkan ustadz kondang Abdul Somad, di ruang sidang Mudjiono Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Kamis (18/6).
Di persidangan yang berlangsung kurang lebih satu jam itu, Ustadz Abdul Somad (UAS) diminta menjelaskan sejauh mana dirinya mengenal Abdul Wahid.
"Sejauh mana saksi mengenal sosok Abdul Wahid?" tanya Kemal memulai pertanyaannya.
UAS dengan lancar menjelaskan jika mengenal Abdul Wahid sejak mengenyam pendidikan di pesantren. Di bangku kuliah Abdul Wahid adalah junior UAS di Universitas Islam Negeri (UIN) di Pekanbaru.
"Saya kenal baik dengan beliau, kita satu pesantren dan sama-sama kuliah di UIN. Beliau adalah sosok yang baik meskipun kita bukan saudara kandung. Saya bersaksi disini karena paham beliau adalah orang baik. Saya katakan disini, untuk saudara kandung saya sendiri, saya tidak pernah bersaksi, tapi untuk beliau saya hadir di persidangan ini. Saya tegaskan ini pertama kali saya bersaksi di persidangan," kata UAS memberikan penjelasan.
Lalu Kemal melanjutkan pertanyaannya terkait motivasi UAS untuk mendorong Abdul Wahid duduk di DPR RI.
"Apa motivasi saksi menyarankan Abdul Wahid untuk duduk sebagai anggota DPR-RI?"
UAS menjelaskan jika motivasi menyarankan Abdul Wahid maju di pemerintahan untuk memajukan Riau.
"Kita tidak lagi tinggal di zaman kerajaan Siak Sri Indrapura dimana semua keputusan oleh Sultan untuk rakyat. Namun, saat ini kita tinggal di negara demokrasi, jadi kita perlu sosok politisi, anak muda Riau dari UIN, yang memperjuangkan nilai-nilai Riau dan agama di parlemen. Sehingga hasil-hasil di parlemen itu bisa dibawa pulang untuk Riau," kata UAS.
UAS juga menuturkan perjalanannya bersama Abdul Wahid (AW) untuk sampai duduk di DPR RI. Ia dan AW berkampanye dari kabupaten ke kabupaten hingga akhirnya AW berhasil duduk di Senayan.
UAS menuturkan harapan Abdul Wahid ketika ia duduk di Senayan yaitu tidak ingin masyarakat Riau terus menjadi miskin, sementara kekayaan alam nya berlimpah. AW menginginkan agar rakyat Riau menikmati hasil dari kekayaan daerahnya.
Kemal juga meminta penjelasan UAS terkait pencalonan Abdul Wahid untuk maju di Pilkada Gubernur Riau 2024.
"Bisa saksi jelaskan terkait keinginan Abdul Wahid untuk maju mencalonkan diri sebagai Gubernur Riau di tahun 2024?" tanya Kemal lagi.
"Saya mengatakan kepada Abdul Wahid, jika ingin memajukan Riau tidak cukup hanya untuk duduk di parlemen, tapi harus jadi pemimpin. Kalau maju memimpin Riau saya siap menjadi juru kampanye lagi. Saya juga sempat mengingatkan beliau menjadi pemimpin ini tidak sama tanggung jawabnya dengan memimpin di parlemen. Coba tanya keluarga, istri dan anak, apa tanggapan mereka. Namun sejauh ini pihak keluarga tidak banyak permintaan," jelas UAS lagi.
Dalam keterangannya di persidangan, UAS menegaskan siap mendampingi Abdul Wahid berkampanye dengan mengajukan sejumlah kesepakatan jika berhasil duduk sebagai Gubernur Riau.
"Ada 17 poin yang saja ajukan kepada AW, namun dijadikan 16 agar tidak tumpang tindih. Salah satunya adalah membangun Islamic Center di Purna MTQ Pekanbaru, lalu memberikan insentif pada guru mengaji. Itu semua untuk kepentingan dakwah di Riau, bukan kepentingan pribadi," tegas UAS lagi.
UAS juga mengatakan jika dirinya juga menyarankan beberapa nama sebagai calon wakil gubernur Riau untuk mendampingi Abdul Wahid ketika menjadi Gubernur Riau. UAS menyebutkan sejumlah nama yang menurutnya cocok untuk menjadi wakil gubernur Riau seperti, Mawardi Saleh, Zukri yang menjadi Bupati Pelalawan saat ini, dan mantan Bupati Pelalawan Haris.
Namun, dari ketiga nama yang diajukan UAS tidak ada yang maju, hingga akhirnya AW mengusulkan nama SF Hariyanto sebagai Wakil Gubernur Riau. UAS dengan berat hati bertanya, sejauh mana AW mengenal seorang SF Hariyanto. AW mengatakan jika dirinya mengenal baik SF Hariyanto, dan setelah itu ia menemani sobat baiknya itu mendaftar ke KPU Riau.
Pada kesempatan itu, UAS juga menceritakan jika Abdul Wahid datang menemuinya terkait ada ancaman berupa rekaman video tentang dirinya sebagai saksi di KPK saat itu. UAS saat itu mengatakan agar tetap tenang karena itu hanya sebagai ancaman saja.
UAS juga menuturkan dipersidangan, jika ia juga mengetahui keretakan hubungan Abdul Wahid - SF Hariyanto. Ia saat itu berusaha mendamaikan keduanya dengan meminta bantuan mantan Bupati Siak Arwin AS, Asri Auzar, namun upaya mendamaikan keduanya tidak berhasil.
"Saat itu saya bilang ke Pak Arwin, kalau bisa mendamaikan keduanya saya akan datang nanti. Tapi, seperti yang kita lihat bersama upaya mendamaikan kedua tidak sukses," jelas UAS yang hadir dipersidangan dengan mengenakan kemeja muslim hijau.
Kuasa Hukum Abdul Wahid sampai ke pertanyaan apakah UAS juga pernah bertemu dengan SF Hariyanto, selama menjabat sebagai Wakil Gubernur Riau.
"Apakah saudara pernah bertemu SF Hariyanto selama menjadi Wakil Gubernur Riau?" tanya Kemal singkat.
"Saya bertemu dengan SF Hariyanto saat itu disebuah kafe di Jalan Kartini. Saat itu yang dibahas adalah mengenai kebiasaan Dani M Nursalam yang suka mengutip-ngutip uang kepada orang yang dikenalnya, maklum beliau istrinya dua," kata UAS, yang membuat pengunjung sidang tersenyum geli.
UAS saat itu juga meminta agar menyampaikan hal tersebut ke Abdul Wahid dan saat itu ditindak lanjuti dengan keluarnya surat edaran agar tidak melakukan pungli oleh siapapun di lingkungan Pemprov Riau.
Di penghujung persidangan Kemal kembali mempertanyakan motif dan dasar apa yang menjadikan UAS meminta Abdul Wahid menjadi pemimpin di Bumi Lancang Kuning tersebut.
"Bisa saksi jelaskan motif dan dasar apa yang membuat saksi mempercayakan Abdul Wahid memimpin Riau?" tanya Kemal dengan nada tegas.
"Ya, dasar pemikiran saya hanya satu, dakwah ini tidak cukup hanya dengan ceramah, tapi dakwah ini efektif jika dikuatkan dengan kekuasaan, dengan perda dan lain sebagainya itu. Jadi, saya mencari sosok pemimpin yang baik, jujur dan amanah, dan itu ada di sosok sahabat saya Abdul Wahid," kata UAS menjelaskan.
UAS hingga saat ini tidak percaya jika sahabatnya itu melakukan perbuatan-perbuatan curang, terlebih lagi hingga saat ini tidak ada bukti yang memberatkan sahabat baiknya tersebut. Ia pun memberikan penguatan di persidangan untuk Abdul Wahid.
"Orang yang menuduh biasanya membawa bukti dan jika tidak ada barang bukti maka yang menuduh itu melakukan aniaya dan itu perbuatan dzalim. Saya tidak pernah membela saudara kandung saya seperti saya membela Abdul Wahid, percayalah Abdul Wahid, Allah dan pertolongannya bersama engkau," pernyataan UAS ini membuat suasana persidangan menjadi haru dan semua pengunjung yang hadir terlihat meneteskan air mata.
Sementara itu, JPU KPK yang diwakili oleh Meyer Volmar Simanjuntak menanyakan dimana posisi UAS saat OTT KPK 3 November itu terjadi.
"Saya hanya mengajukan sedikit pertanyaan Yang Mulia, yaitu dimana posisi saudara saksi saat Pak Abdul Wahid pada peristiwa OTT tersebut?" tanya Meyer singkat.
"Saya saat itu berada di pesantren Rimbo Panjang dan shalat Maghrib disana," tukas UAS menjelaskan.
"Apakah saudara tidak berada ditempat yang saya sebutkan ini, seperti kediaman gubernur, kantor dinas PUPR, dan kapan terakhir kali bertemu Pak Abdul Wahid sebelum OTT itu? tanya Meyer lagi.
"Saya saat itu ada di rumah Kapolda Riau jam 7 malam. Dan saya terakhir kali bertemu dalam hitungan minggu dengan Abdul Wahid," kata UAS kepada Meyer.
Ketua Majelis Hakim Delta Tamtama juga bertanya kepada UAS, harapan apa yang ditumpukan kepada pasangan Abdul Wahid - SF Hariyanto ini saat memimpin Riau.
"Apa harapan saudara saksi kepala pasangan Abdul Wahid - SF Hariyanto saat memimpin Riau?
"Saya hanya ingin jalan bagus, layangan kesehatan gratis, kalau tidak gratis ya murah, dan begitu juga halnya untuk pendidikan. Berikan pendidikan yang bermutu dan murah kalau tidak bisa gratis," jelas UAS menjawab pertanyaan sang pemimpin di ruang sidang.
Delta kembali bertanya apakah ada lagi yang ingin disampaikan diluar pertanyaan terkait masalah hukum tersebut.
"Ada lagi yang ingin saudara sampaikan diluar kasus ini?"
"Ya, saya hari ini bersaksi menyampaikan dengan yang sebenarnya, karena apapun nanti semua perbuatan kita akan dipertanyakan di hari akhir. Saya bersaksi untuk kebenaran dan yang saya sampaikan ini adalah hal yang benar," tutup UAS mengakhiri penjelasannya.
Abdul Wahid Katakan Masalah Hukum Ini karena SF Hariyanto Ingin Jadi Gubri
Usai persidangan awak media menanti sosok UAS dan Abdul Wahid di luar pintu keluar ruang sidang. Namun, UAS memilih pintu keluar lain untuk menghindari kru media, dan hanya bisa puas mewawancara Abdul Wahid saja.
Abdul Wahid kembali menegaskan jika dirinya tidak seperti yang dituduhkan selama ini
"Masalah ini karena saya tidak akur dengan Pak SF Hariyanto kan. Tapi tadi bisa dilihat semuanya di persidangan, kita sudah ikuti persidangan dan alat bukti sudah diperlihatkan. Saya bersyukur dan saya yakin kebenaran itu akan menemukan jalannya. Ini semua karena Pak SF mau jadi Gubernur Riau, khan?' tutup Abdul Wahid singkat.**