Tanggapan Psikolog soal Insiden Berdarah di UIN Suska Riau

Sabtu, 28 Februari 2026 | 14:38:43 WIB
Psikolog Herliasanti, Sabtu (28/2) di Pekanbaru. Foto - Astrid

iniriau.com, Pekanbaru - Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau digemparkan dengan insiden berdarah, Kamis (26)2) lalu. Seorang mahasiswi tingkat akhir FA, yang hendak menempuh ujian skripsi, menjadi korban penganiyaan berat oleh rekan satu fakultasnya.

Motif RM melakukan penyerangan brutal terhadap FA pun sederhana, sakit hati dan kecewa karena hubungan asmara mereka kandas.

Peristiwa penganiyaan berat terhadap.FA mendapat sorotan dari psikologi Herliasanti, Sabtu (28/2) di Pekanbaru. Menurutnya, tindakan kekerasan tidak bisa dijadikan solusi untuk suatu masalah. Terlebih lagi yang menjadi objek kekerasan itu adalah perempuan.

"Peristiwa yang menimpa mahasiswi UIN tersebut sangat tidak manusiawi. Kekerasan tidak bisa dianggap sebagai solusi dari suatu masalah, apalagi korbannya adalah perempuan. Artinya, perempuan hingga saat ini terus menjadi objek tindakan kekerasan atau penganiayaan," kata Herliasanti yang kesehariannya aktif di salah satu LSM Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW) Riau.

Herliasanti mengatakan perempuan adalah kelompok rentan atas tindakan penganiyaan atau kekerasan. Jadi, harus ada kesadaran kritis menghentikan kekerasan terhadap perempuan.

"Harus ada kesadaran kritis dan dari dini untuk menghentikan sikap brutal terhadap kaum hawa. Kesadaran itu bisa dimulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga. Contoh, bagaimana seorang ayah mengajarkan anak laki-lakinya untuk bersikap baik terhadap perempuan. Jika sikap itu ditanamkan sedari awal, maka tidak akan ada peristiwa seperti yang dialami FA saat ini," kata Herliasanti lagi.

Perempuan berkerudung itu juga tidak mengelak sikap anarkis pada generasi muda tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Saat ini siapa saja bisa mengakses konten-konten tertentu sesuai kebutuhannya. Seringkali, konten-konten tersebut diterima tanpa filterisasi terlebih dahulu.

"Di zaman canggih seperti ini, siapa saja bisa mengakses konten-konten tertentu. Hanya saja si pengakses konten tidak menyaring baik dan buruknya. Kalau merasa kesal atau marah, bisa dilampiaskan dengan tindakan kekerasan. Disinilah peran orang tua sesungguhnya mendampingi anak-anak dalam memanfaatkan teknologi. Orang tua lah yang berkewajiban memberitahukan konsekuensi suatu sikap kepada anaknya," ujar Herliasanti menutup wawancara dengan iniriau.co, Sabtu siang.**

Tags

Terkini