iniriau.com, Pekanbaru - Sudah beberapa pekan terakhir kota Pekanbaru ditutupi asap. Namun, hingga saat belum ada pengumuman resmi dari pemerintah kota Pekanbaru terkait kondisi udara di kota bertuah.
Sejumlah warga yang ditemui iniriau.com mengatakan, sudah merasa terganggu sirkulasi pernafasannya karena kualitas udara tidak bagus.
"Sudah satu minggu ini, flu dan tenggorokan rasanya kurang nyaman. Hidung sampai berair, mata pedih, karena asap," kata Maya sambil menunjuk ke hidungnya yang sudah memerah.
Sedangkan Rani memilih untuk mengurangi aktifitas diluar rumah dari dua pekan lalu. Ia memutuskan tidak keluar rumah jika urusannya tidak penting.
"Saya kurangi saja aktifitas di luar rumah, kalau mau keluar rumah pakai masker saja. Saya harap ada pengumuman resmi dari pemerintah kota Pekanbaru terkait kondisi udara ini. Jadi, kita tahu harus bagaimana," kata Rani singkat.
Kota Pekanbaru memiliki Alat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang tersebar di sejumlah titik, namun alat tersebut sudah tidak berfungsi sejak tahun 2020 lalu.
Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan kota Pekanbaru, Reza Aulia. Ia mengatakan jika alat indikator pencemaran udara itu sudah rusak dari tahun 2020 lalu.
"Tiga alat indikator itu sudah rusak dari tahun 2020 lalu. Kalau diperbaiki akan membutuhkan biaya yang banyak, dan kalau beli baru juga mahal. Kalau untuk informasi kondisi udara bisa di check ke BMKG, kata Reza singkat.
Diketahui, tanggung jawab dan pengelolaan alat indikator pencemaran udara itu berada dalam kewenangan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan kota Pekanbaru. Namun, karena mahalnya biaya perbaikan, alat tersebut tidak pernah diperbaiki hingga saat ini.**