BMKG: Potensi Karhutla 2026 Diprediksi Lebih Berat, Curah Hujan di Bawah Normal

Kamis, 05 Maret 2026 | 20:46:50 WIB
Ilustrasi kebakaran lahan (foto:freepik)

iniriau.com, PEKANBARU – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini dipicu oleh curah hujan yang diproyeksikan berada di bawah normal di sejumlah wilayah Indonesia, terutama daerah yang berada di sekitar garis khatulistiwa.

Peringatan tersebut disampaikan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, usai mengikuti apel kesiapsiagaan karhutla nasional di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Kamis (5/3/2026).
Menurut Faisal, penurunan intensitas hujan tahun ini membuat berbagai daerah harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.

“Curah hujan diprediksi berada di bawah normal. Kondisi ini tentu meningkatkan potensi karhutla, sehingga seluruh pihak perlu melakukan langkah antisipasi sejak dini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, beberapa wilayah yang berada di sekitar ekuator seperti Provinsi Riau, Provinsi Jambi, dan Kalimantan Barat saat ini sedang mengalami fase yang dikenal sebagai kemarau pendek atau kemarau kecil. Pada periode tersebut hujan masih mungkin terjadi, namun durasinya relatif singkat dan tidak merata.

“Di wilayah sekitar khatulistiwa saat ini masih ada peluang hujan, tetapi biasanya hanya sebentar dan tidak merata. Karena itu kelembapan lahan bisa cepat menurun,” jelasnya.

BMKG memprediksi puncak musim kemarau di wilayah-wilayah tersebut akan berlangsung pada periode Juni hingga Agustus mendatang. Kondisi ini dinilai menjadi periode krusial yang harus diantisipasi agar kebakaran hutan dan lahan tidak meluas.

Sebagai langkah mitigasi, BMKG membuka kemungkinan pelaksanaan penyemaian awan untuk memicu hujan, sehingga kondisi tanah tetap lembap dan tidak mudah terbakar.

“Selama kondisi atmosfer memungkinkan, penyemaian awan dapat dilakukan untuk memicu turunnya hujan agar lahan tetap basah,” kata Faisal.

Ia menambahkan, BMKG terus memantau perkembangan cuaca secara intensif. Dalam upaya pengendalian karhutla, pihaknya juga berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang dinilai rawan kebakaran.

“Koordinasi terus dilakukan agar langkah mitigasi bisa berjalan lebih cepat, terutama di daerah yang memiliki risiko tinggi terjadinya karhutla,” tutupnya.**

Tags

Terkini