Puasa Ramadan, Ibadah Melawan Nafsu

Rabu, 18 Februari 2026 | 07:40:05 WIB
Foto dok ZK

Oleh Zulkarnain Kadir Pengamat Hukum dan Pemerhati Birokrasi

RAMADAN selalu datang dengan wajah ganda. Di satu sisi ia adalah bulan suci ruang sunyi untuk menata hati, menundukkan ego, dan membersihkan diri. Di sisi lain, ia kerap berubah menjadi festival simbolik, baliho religi di mana-mana, jargon moral di podium kekuasaan, dan kesalehan yang lebih rajin dipamerkan daripada dipraktikkan. Padahal pesan puasa sangat sederhana, bahkan tegas. Ia bukan soal menahan lapar semata, melainkan menahan keserakahan.

Dalam Al-Qur'an, puasa diperintahkan agar manusia mencapai takwa kesadaran moral yang hidup dalam tindakan, bukan hanya ritual. Ironisnya, setiap Ramadan justru kita menyaksikan harga bahan pokok melonjak, korupsi tetap berjalan, kebohongan politik tak berhenti, dan ketidakadilan terus dibiarkan. Puasa seharusnya membuat pejabat takut menyentuh uang rakyat.

Puasa seharusnya membuat penguasa malu hidup mewah di tengah kemiskinan. Puasa seharusnya memperhalus kebijakan, bukan sekadar memperindah pidato dan safari ramadhan. Namun yang sering terjadi sebaliknya: siang hari menahan lapar, malam hari berpesta konsumsi.

Mulut berzikir, tangan tetap mencuri. Mengaku beriman, tapi tega menindas. Ramadan lalu dijadikan kosmetik moral. Tampak suci di luar, rapuh di dalam. Lebih menyedihkan lagi, puasa sering direduksi menjadi urusan pribadi semata, seolah tak ada hubungannya dengan keadilan sosial. Padahal esensi lapar adalah solidaritas. Orang kenyang diajari merasakan derita orang yang tak pernah kenyang.

Jika setelah puluhan Ramadan kita masih akrab dengan korupsi,kolusi, kemiskinan struktural, dan kekuasaan yang rakus, mungkin masalahnya bukan pada ajaran puasanya melainkan pada keberanian kita menjalankan nya secara jujur. Puasa bukan ritual melemahkan tubuh.

Ia latihan memperkuat nurani. Dan bangsa yang nuraninya tumpul, tak akan pernah bisa diselamatkan oleh seberapa banyak ibadah simbolik.

Ramadan seharusnya menjadi bulan pertobatan kolektif. Bagi individu, bagi penguasa,pengusaha dan bagi sistem yang selama ini membiarkan ketimpangan tumbuh subur. Jika tidak, puasa hanya akan terus menjadi rutinitas tahunan lapar di siang hari, rakus sepanjang tahun. Selamat Puasa Ramadhan, mohon maaf lahir bathin.**
 

Tags

Terkini