15 Jumadil Awwal 1444 H | Jumat, 9 Desember 2022
Kisah Azka Bocah 6 Tahun Selamat Setelah Terkurung 3 Hari di Reruntuhan Gempa
nasional | Kamis, 24 November 2022
Editor : Betty Ismail | Reporter : -

Azka, bocah 6 tahun korban gempa Cianjur yang selamat setelah tiga hari dalam reruntuhan bangunan (foto:net)

iniriau.com, CIANJUR - Terkurung sekitar 48 jam di reruntuhan rumah orang tuanya yang ambruk, seorang bocah berusia enam tahun ditemukan dalam kondisi selamat di sebuah desa yang luluh lantak akibat gempa bumi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.Azka Maulana Malik, nama bocah itu, selamat karena tidak tertimpa tembok yang runtuh.

Pada Rabu (23/11), Azka berhasil diselamatkan tim evakuasi di dalam reruntuhan rumahnya di Desa Rawa Cina, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat.

"Beri ruangan, beri ruangan… kasih jarak, kasih jarak… kasih napas pak, oksigen pak," kata tim evakuasi gabungan secara bergantian ketika Azka berhasil dikeluarkan dari puing-puing bangunan.

Tubuh anak berusia enam tahun itu terlihat dipenuhi debu dari reruntuhan. Pakaiannya juga kotor. Namun, tidak terdengar tangisan saat dia dievakuasi.

M Eka selaku ayah Azka, mengatakan kondisi anak keduanya itu sudah mulai membaik, meskipun "belum 100% pulih".

"Sudah bisa diajak berkomunikasi, bercanda-canda. Kadang-kadang ingat sama ibunya, dia nangis lagi, panggil-panggil lagi. Begitu saja," kata Eka.

Eka mengenang momen ketika berjumpa dengan Azka, sesaat ketika bocah enam tahun itu diselamatkan dari timbunan reruntuhan.

"Langsung kontak dengan saya, panggil saya Appa. Saya bilang, 'Ingat kan tahu siapa?' Dia menjawab, 'Appa'. Saya tanya lagi, 'Ini angka berapa, ini berapa jari?' Dia bisa jawab, 'lima'. Tapi setelah itu dia sering tanya, ' mama mana?'."

Padahal, ibunda Azka, Eti Suryati, dan neneknya ditemukan meninggal dunia di lokasi yang sama.

Eka menambahkan anak keduanya itu, sudah mengetahui "nama-namanya yang pernah dekat sama dia di rumah dulu".

"[Tapi] kan kasihan terus-terusan diajak ngobrol. Karena ingatannya itu belum 100% pulih, karena benturan dari atas, dari benda berat," lanjut Eka.

Eka tidak membayangkan anaknya masih hidup. "Iya, tapi dalam hati saya masih ada harapan," katanya.

"Karena apa? Karena terus-terusan, saya kepikiran terus. Sampai hari ketiganya itu, malamnya itu sampai saya dibilang mimpi, nggak tidur, jam satu malam. Ada suara, panggil-panggil, [itu] anak saya."

"Dalam mimpi dia bilang, 'Appa sini, Appa ini ujang'. Makanya saya bangun," lanjut Eka.

Malam itu, Eka langsung ke rumahnya yang sudah rata dengan tanah. Kemudian ia mengira-ngira posisi anaknya saat tertimpa reruntuhan.

"Karena saya tahu anak saya itu kalau tidak main, sehari-harinya di kamar, lihat dia nonton tv atau main gim," kata Eka.

Setelah yakin posisi anaknya di reruntuhan tersebut, ia kemudian berkoordinasi dengan tim SAR untuk memprioritaskan pencarian di titik tersebut.

"Ini kayak ada ikatan batin," ujarnya.

Sesaat setelah ditemukan Azka tampak tidak bicara sepatah kata pun. Tubuhnya lemas setelah sekitar 48 jam terkurung reruntuhan rumah orang tuanya.

"Korban sudah bersama tim medis, belum bisa berbicara, terlihat trauma," kata Jackson Kolibu, relawan Tim Reaksi Cepat Radio Antar Penduduk Indonesia (TRC RAPI), yang mengirimkan video evakuasi Azka kepada BBC News Indonesia, Rabu (23/11).

Paman Azka, Wahyudi, mengatakan kondisi Azka sehat saat ditemukan. Bahkan anak kecil itu tidak terluka.

"Dampak tiga hari tiga malam nggak makan nggak minum, sakit perutnya, katanya. Cuma kalau kondisi badan dalam dan luar, nggak ada luka. Itu dokter bedah yang ngomong tadi," papar Wahyudi kepada wartawan BBC News Indonesia Muhammad Irham, yang berada di lokasi kejadian.

Wahyudi memiliki peran penting dalam proses evakuasi Azka. Dia memang tidak tinggal di Cugenang karena bekerja di Tangerang, tetapi laki-laki berusia 29 tahun itu hafal kebiasaan keluarganya, termasuk keponakannya Azka.

Dia menunjukkan tempat Azka biasanya berada saat di rumah, kepada tim SAR.

"Saya bilang 'depan ini, depan teras, ini tempat warung, terus ini kamarnya, barangkali di sini'. Eh tahunya benar. Pas ditunjuk di situ, memang di situ ada," ujar Wahyudi.

Dia sangat bersyukur menemukan keponakannya ditemukan dalam kondisi hidup, meski anggota keluarga yang lain meninggal dunia.

Azka ditemukan di sebelah neneknya yang juga tertimpa reruntuhan. Namun, neneknya meninggal dunia.

Bibi Azka, Rizma Sari, mengatakan ibu dan kakaknya--yang merupakan nenek dan ibu Azka--meninggal dunia akibat gempa magnitudo 5,6 pada Senin (21/11) lalu.

"Ibu saya nggakketolong, sudah ketemu tapi dalam keadaan tidak bernyawa, sama kakak saya [juga tidak bernyawa]," kata Rizma.

Ibu Azka, yang merupakan kakak Rizma, ditemukan meninggal dunia sehari sebelumnya, yaitu pada Selasa (22/11).

Meski kala itu Rizma menemukan fakta bahwa kakaknya sudah tiada, dia berharap Azka dan ibunya yang masih hilang bisa ditemukan dengan selamat.

Sampai hari ketiga pascagempa, harapan Rizma masih besar.

"Karena dengar dari tetangga-tetangga, dari teman juga ada, waktu itu ibu katanya ke sawah. Saya berharap semuanya selamat, mengungsi," ujar Rizma.

Namun, harapan Rizma pupus karena ibunya ditemukan tak bernyawa.

Di sisi lain, dia bersyukur karena ayahnya dan keponakannya yang lain, Eza, ditemukan selamat.

"Bapak dan keponakan saya Eza sudah aman, ada di rumah keluarga di Ciranjang," ujar dia.

Syamsul Hadi, 43 tahun, guru agama dan sosok yang dituakan di Kampung Rawa Cina, termasuk orang yang semula meyakini Azka bakal tidak tertolong.

"Karena secara logika, kalau menurut ukuran manusia, sudah tidak mungkin [hidup]," kata Hadi.

Apalagi, jenazah ibunya ditemukan sehari sebelumnya, yaitu Selasa (22/11). Bagi orang kebanyakan, tidak terpikir bahwa Azka bakal selamat.

Tapi, "Azka tertimbun dua hari satu malam, ketemu di hari ketiga, masih hidup. Itulah kekuasaan Allah," ujar Hadi kepada wartawan BBC News Indonesia, Muhammad Irham, di lokasi pengungsian.

Ayah Azka, M.Eka, yang sedang berada di luar kota saat gempa mengguncang, juga semula pasrah akan nasib anaknya itu.

"Dia sudah memperkirakan anaknya meninggal di hari pertama. 'Sudah tidak mungkin kang', katanya kepada saya. Kalimat mustahil sudah keluar dari mulut ayahnya," tutur Hadi.


"Tapi ternyata di hari ketiga, Allah menunjukkan kuasanya," kata guru agama tersebut.

Keberhasilan tim SAR menyelamatkan Azka dari reruntuhan disambut suka cita dan rasa syukur warga desa.

Nama Azka, dan kisah penyelamatannya, kemudian menjadi pemberitaan media massa nasional.

Desa Rawa Cina, yang terletak di Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, pada hari kedua setelah gempa, nyaris belum mendapat perhatian otoritas terkait.

"Desa ini memang terisolir, belum terjangkau. Selasa kemarin masih sepi, tapi sekarang [Rabu] banyak orang datang," kata Jackson Kolibu, relawan Tim Reaksi Cepat Radio Antar Penduduk Indonesia (TRC RAPI).

"Sebelumnya kita kekurangan alat untuk evakuasi, tapi hari ini [Rabu], ada bantuan dari Basarnas, TNI dan Brimob," tandasnya.**

Sumber:BBC News Indonesia


    Nasional   Otomotif   Life Style
  Bisnis   Advertorial   Ruang Kosong
  Daerah   Galeri   Pariwisata
  Internasional   Sport   Hiburan
  Hukum   Pendidikan   Griya Interior
  Politik   Budaya   Kisah Inspiratif
    Kota Pekanbaru   Kabupaten Kampar   Kabupaten Rokan Hulu
  Kabupaten Indragiri Hulu   Kabupaten Kuantan Singingi   Kabupaten Rokan Hilir
  Kabupaten Indragiri Hilir   Kabupaten Meranti   Kabupaten Bengkalis
  Kota Dumai   Kabupaten Siak   Kabupaten Pelalawan
      Pemkab Bengkalis   DPRD Kabupaten Bengkalis