14 Jumadil Awwal 1444 H | Kamis, 8 Desember 2022
Tidak Terima Tunjangan Kinerja Dipotong, Dosen UIN Suska Lakukan Aksi
pendidikan | Sabtu, 5 November 2022
Editor : Betty Ismail | Reporter : NN

UIN Suska Riau (foto:net)

iniriau.com,PEKANBARU - Tidak terima uang tunjangan kinerjanya dipotong sejumlah dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Suska menggelar aksi di gedung rektorat, Jumat (4/11/2022). Para dosen ini melakukan jalan kaki dari Masjid Al-Jamiah sekitar pukul 10.00 WIB. Mereka membawa poster dan spanduk bertuliskan tuntutan terkait tunjangan kinerja dosen. Diantaranya 'Jangan kebiri penghasilan dari dosen'. Ada pula soal 'Akibat salah urus, dosen dan tenaga pendidik jadi korban' dan 'Jangan sunat remunerasi' hingga 'UKT UIN bukan untuk jalan-jalan berkedok MoU'.

Dimana kabarnya tunjangan kinerja dosen dipotong dan telah lama tidak dibayarkan tuntas sejak Maret-Agustus 2022 lalu.

Setiba di gedung rektorat, perwakilan dari dosen pun langsung berorasi. Dalam orasi mereka minta rektor menuntaskan semua persoalan di kampus khususnya tunjangan dosen yang disampaikan Ketua Asosiasi Dosen Indonesia Majelis Pengurus Cabang (MPC) UIN Suska Riau, Iskandar Arnel.

"Tuntutan kita pertama soal remun dosen yang dipotong. Potongan ini banyak, ada dari dosen mulai dari Rp 3-12 jutaan, tentu ini kasihan," terang Iskandar Arnel.

Menurutnya, unjuk rasa ini karena tenaga pendidik di UIN tersebut sudah lelah karena tidak ada kejelasan. Bahkan setiap kali diminta penjelasan, rektor selalu pergi ke luar kota tanpa menunjuk perwakilan di kampus untuk menjelaskan.

"Sebelum aksi ini kami sudah mempertanyakan. Dan sudah menunggu berkali-kali supaya rektor di tempat, tetapi dia selalu keluar daerah. Ini ada ribuan nasib dosen nunggu keputusan rektor," katanya.

Tidak hanya masalah tunjangan dosen, menurut Ketua Tim Kajian Dosen di UIN Suska Roni Riansyah menyebut ada banyak dugaan pelanggaran terkait kebijakan rektor Prof Khairunas. Seperti   pembayaran ganda pejabat.

"Anggaran remunerasi itu relatif sama, ini dugaan kita ada pembayaran ganda pada dosen yang menjabat. Itu jumlahnya lebih Rp 14 miliar, bisa dikategorikan kerugian negara," kata Roni.

Atas temuan-temuan tersebut, para dosen pun berencana membawa kasus tersebut kepada penegak hukum. Salah satunya ke Kejaksaan Negeri Pekanbaru.

"Ada juga honor ilegal, ini harus dikoreksi. Kita mohon kepada rektor dikoreksi, kita minta rektor transparan. Tentu kalau tidak kami akan serahkan ke penegak hukum ya, termasuk ke Kejari Pekanbaru,"ujar Roni.

Sementara pejabat terkait termasuk rektor saat ditemui tak ditempat. Rektor disebut sedang ada kegiatan di luar kota.

Sedangkan Kejaksaan Negeri Pekanbaru memastikan akan menerima tiap laporan masuk. Terutama terkait remunerasi atau tunjangan kinerja dosen UIN Suska yang akan dilaporkan ke institusinya, seperti yang dilansir dari detik.

"Pada prinsipnya kami berterimakasih atas kepercayaan teman-teman dosen UIN ya. Tentu langkah selanjutnya kami menunggu langkah dan upaya dari teman-teman dosen," kata Kasi Pidsus Kejari Pekanbaru, Agung Irawan. **


    Nasional   Otomotif   Life Style
  Bisnis   Advertorial   Ruang Kosong
  Daerah   Galeri   Pariwisata
  Internasional   Sport   Hiburan
  Hukum   Pendidikan   Griya Interior
  Politik   Budaya   Kisah Inspiratif
    Kota Pekanbaru   Kabupaten Kampar   Kabupaten Rokan Hulu
  Kabupaten Indragiri Hulu   Kabupaten Kuantan Singingi   Kabupaten Rokan Hilir
  Kabupaten Indragiri Hilir   Kabupaten Meranti   Kabupaten Bengkalis
  Kota Dumai   Kabupaten Siak   Kabupaten Pelalawan
      Pemkab Bengkalis   DPRD Kabupaten Bengkalis