29 Zulqaidah 1443 H | Rabu, 29 Juni 2022
Lutut Sakit Bisa Karena Syaraf Kejepit atau Pengapuran Tulang, Ini Bedanya
kolom | Senin, 15 November 2021
Editor : Betty Ismail | Reporter : NN

Ilustrasi-internet

iniriau.com, JAKARTA-Sakit oada lutut beberapa waktu belakangan sering dikeluhkan terutama pada lanjut usia. Namun, sakit pada lutut seseorang Dokter spesialis bedah ortopedi di RS Haji Jakarta Basuki Supartono bisa disebabkan oleh dua hal. Yaitu pengapuran atau saraf kejepit yang keduanya cukup berbeda.

Menurut Dokter spesialis bedah ortopedi di RS Haji Jakarta Basuki Supartono  pengapuran dan saraf kejepit merupakan dua konsep yang berbeda.

Pengapuran adalah kondisi terkait dengan kerusakan lapisan tulang rawan sendi. Sedangkan saraf kejepit terkait jaringan saraf yang terjepit akibat penekanan oleh struktur jaringan tubuh yang lain.

“Pengapuran itu konsep, saraf kejepit juga konsep. Ini tergantung lokasinya, kalau pengapuran berkaitan dengan sendi jadi bisa terjadi di setiap sendi tidak hanya di lutut,” kata Basuki beberapa waktu lalu

Pengapuran bisa terjadi secara primer dan sekunder. Pengapuran primer dapat terjadi karena faktor usia, sehingga banyak pasien pengapuran sendi adalah lanjut usia (lansia). Sedang, pengapuran sekunder bisa diakibatkan obesitas atau trauma berulang.

Jika pengapuran terjadi di lutut maka disebut pengapuran sendi lutut, jika terjadi di tulang belakang maka disebut pengapuran sendi tulang belakang.

Saraf Kejepit

Sedang, saraf kejepit hanya terjadi di daerah yang ada sarafnya. Salah satu lokasi yang sering terjadi saraf kejepit adalah tulang belakang.

“Saraf kejepit di tulang belakang hampir dipastikan tidak ada hubungannya dengan lutut. Saraf kejepit dan pengapuran bisa terjadi di tulang belakang karena di tulang belakang ada saraf dan sendi.”

Dari sisi usia, kelompok yang lebih muda biasanya cenderung mengalami saraf kejepit bukan pengapuran.

Hal ini juga dapat dipicu dua penyebab yakni primer dan sekunder. Saraf kejepit primer bisa karena faktor usia (penuaan). Namun, kebanyakan saraf kejepit terjadi karena faktor sekunder seperti jatuh dan mengangkat beban berat dengan postur yang keliru.

Perbedaan Rasa Nyeri

Basuki menambahkan, rasa nyeri akibat pengapuran dan saraf kejepit cenderung sulit dibedakan oleh orang awam.

“Nyerinya kurang lebih sama, orang awam susah membedakan, tapi kalau saraf kejepit ada rasa kesemutan. Kalau pengapuran sendi tidak ada gejala kesemutan kecuali jika sudah dalam kondisi ekstrem.”

Untuk memastikan pasien mengalami saraf kejepit atau pengapuran, maka tes yang dapat dilakukan adalah tes laseque. Dalam tes ini, pasien diminta berbaring kemudian tungkai bawahnya diangkat 30 derajat.

“Kemudian pasiennya ditanya apa merasa kesemutan atau tidak, terus dinaikkan lagi, jika pasien tidak merasa kesemutan kemungkinan besar tidak ada saraf kejepit. Namun, jika ada saraf kejepit maka ketika diangkat 30 derajat akan terasa nyeri yang menjalar dari panggul, paha, bagian belakang, hingga telapak kaki,” tandasnya.

Pada kondisi ringan, pasien mungkin masih bisa berjalan ketika mengalami masalah. Namun pada kondisi berat, bisa terjadi kelumpuhan, gangguan kencing, serta gangguan buang air besar.**

Sumber:merdeka.com


    Nasional   Otomotif   Life Style
  Bisnis   Advertorial   Ruang Kosong
  Daerah   Galeri   Pariwisata
  Internasional   Sport   Hiburan
  Hukum   Pendidikan   Griya Interior
  Politik   Budaya   Kisah Inspiratif
    Kota Pekanbaru   Kabupaten Kampar   Kabupaten Rokan Hulu
  Kabupaten Indragiri Hulu   Kabupaten Kuantan Singingi   Kabupaten Rokan Hilir
  Kabupaten Indragiri Hilir   Kabupaten Meranti   Kabupaten Bengkalis
  Kota Dumai   Kabupaten Siak   Kabupaten Pelalawan
      Pemkab Bengkalis   DPRD Kabupaten Bengkalis