Hotspot di Riau Masih Tinggi, BMKG Catat 143 Titik Panas di Sejumlah Daerah

Ahad, 15 Maret 2026 | 10:09:35 WIB
Ilustrasi kebakaran lahan (foto:freepik)

iniriau.com, PEKANBARU – Jumlah titik panas atau hotspot di Provinsi Riau masih terpantau tinggi. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru pada Minggu (15/3/2026), tercatat sebanyak 143 hotspot terdeteksi di wilayah Riau dari total 222 titik panas yang tersebar di Pulau Sumatera.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella R. Adelia, menyampaikan bahwa Riau menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak di Sumatera pada hari ini. “Dari total 222 hotspot yang terpantau di Sumatera, paling banyak berada di wilayah Riau dengan jumlah mencapai 143 titik,” ujar Bella.

Ia menjelaskan, titik panas tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak yakni 49 titik. Kemudian disusul Kabupaten Bengkalis sebanyak 37 titik dan Kabupaten Rokan Hilir 27 titik.
Selain itu, hotspot juga terpantau di Kota Dumai sebanyak 14 titik, Kabupaten Kepulauan Meranti 9 titik, Kabupaten Siak 3 titik, serta masing-masing 2 titik di Kabupaten Indragiri Hilir dan Kabupaten Kampar.

Dari keseluruhan titik panas yang terdeteksi di Riau, sebanyak lima titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi yang mengindikasikan adanya titik api. Sementara itu, 120 titik lainnya berada pada kategori tingkat kepercayaan sedang dan 18 titik pada kategori rendah.

Sementara di provinsi lain di Pulau Sumatera, jumlah hotspot yang terpantau antara lain di Kepulauan Riau sebanyak 30 titik, Sumatera Selatan 13 titik, Sumatera Barat 12 titik, Jambi 10 titik, Kepulauan Bangka Belitung 5 titik, Bengkulu 4 titik, Aceh 3 titik, serta masing-masing satu titik di Sumatera Utara dan Lampung.

BMKG mengingatkan bahwa tingginya jumlah hotspot tersebut perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, terlebih jika didukung kondisi cuaca panas dan angin yang cukup kencang.

“Kondisi cuaca yang cenderung panas dengan kelembapan yang berubah-ubah dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu diperlukan kewaspadaan bersama dari seluruh pihak,” pungkas Bella.**

Tags

Terkini