SMSI Bahas Tantangan Media Hadapi Disinformasi dan Teknologi AI

Ahad, 08 Maret 2026 | 05:25:52 WIB
Guru Besar Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Albertus Wahyurudhanto saat jadi pembicara dalam Rapat Pimpinan SMSI (foto:dok SMSI)

iniriau.com, Jakarta – Kemajuan teknologi informasi dinilai membawa tantangan baru bagi dunia media, khususnya dalam menghadapi dinamika politik dan pemilu di masa depan. Media dituntut semakin cermat dalam mengelola arus informasi yang berkembang sangat cepat di ruang digital.

Guru Besar Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Albertus Wahyurudhanto, menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Rapat Pimpinan Nasional Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) yang digelar di Jakarta, Jumat (6/3).

Dalam pemaparannya, Albertus menjelaskan bahwa saat ini ruang informasi digital dihadapkan pada tiga bentuk ancaman utama, yakni misinformation, disinformation, dan malinformation. Ia menerangkan bahwa misinformation adalah informasi yang tidak tepat namun tersebar tanpa kesengajaan. Sementara disinformation merupakan informasi keliru yang secara sengaja dibuat untuk menyesatkan publik.

Adapun malinformation adalah informasi yang sebenarnya benar, tetapi disebarluaskan dengan tujuan merugikan pihak tertentu, misalnya melalui pengungkapan data pribadi yang tidak memiliki kepentingan publik.

“Fenomena ini sangat berbahaya karena dapat merusak kualitas demokrasi, memicu konflik sosial, serta menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media dan lembaga penyelenggara pemilu,” ujarnya.

Albertus juga menjelaskan bahwa industri media mengalami transformasi besar seiring perkembangan teknologi. Pada masa awal, platform media seperti cetak, televisi, dan daring berjalan secara terpisah.

Namun dalam perkembangannya, muncul konsep integrasi atau cross media yang memungkinkan satu jurnalis menghasilkan konten untuk berbagai platform secara bersamaan. Tidak hanya itu, beberapa perusahaan media juga mulai membangun unit riset internal guna menghasilkan data dan analisis independen yang dapat memperkuat kualitas pemberitaan.

Saat ini, kata Albertus, dunia media telah memasuki fase baru yang sangat dipengaruhi oleh teknologi digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi tersebut kini banyak digunakan untuk memantau berbagai sumber informasi global, merangkum data berita, hingga membantu redaksi mengidentifikasi isu yang layak menjadi perhatian utama.

“AI mampu mengolah dan merangkum informasi dari banyak sumber dalam waktu singkat sehingga membantu redaksi melihat isu yang sedang berkembang,” jelasnya. Meski demikian, ia menekankan bahwa penggunaan teknologi tersebut tidak boleh mengabaikan proses verifikasi dalam kerja jurnalistik.

Menurutnya, algoritma tetap memiliki potensi kesalahan sehingga pengecekan fakta oleh jurnalis tetap menjadi hal yang sangat penting. “Tugas utama jurnalisme tetap memastikan kebenaran informasi. Karena itu proses verifikasi tidak bisa digantikan oleh teknologi,” tegas Albertus.

Ia menilai tantangan terbesar media saat ini adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan publikasi dan akurasi berita. Persaingan untuk mendapatkan trafik sering kali membuat media tergoda mempublikasikan informasi secara cepat tanpa verifikasi yang memadai.

Selain itu, ia juga menyoroti fenomena echo chamber di media sosial, di mana masyarakat cenderung hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangan politiknya. Kondisi tersebut dinilai dapat memperkuat polarisasi di tengah masyarakat.

Albertus juga mengingatkan adanya praktik manipulasi opini publik melalui penggunaan akun robot, komentar otomatis, hingga rekayasa konten audio dan visual yang dapat menyebarkan propaganda secara luas dalam waktu singkat. Dalam situasi tersebut, ia menilai media memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas demokrasi.

Menurutnya, media tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi bagian dari infrastruktur politik yang menghubungkan para aktor politik dengan masyarakat. Oleh karena itu, media diharapkan mampu menjaga ruang publik tetap sehat, rasional, dan dipenuhi informasi yang dapat dipercaya.

“Tantangan bagi media saat ini adalah bagaimana memadukan kecepatan, akurasi, kreativitas, serta tanggung jawab publik dalam setiap pemberitaan,” pungkasnya.**

Tags

Terkini